Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1,56 persen ke level 6.186,36 pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026). Pergerakan positif ini terjadi setelah pelaku pasar merespons optimis keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Kendati pasar saham bergairah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau masih berada di posisi Rp18.056,8 pada Jumat (31/7). Di sisi lain, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun bertahan kuat di level 7,34 persen, menawarkan selisih (spread) yang menarik sekitar 2,67 poin persentase jika dibandingkan dengan US Treasury tenor serupa yang berada di kisaran 4,67 persen.
Kombinasi dari pulihnya pasar saham serta tingginya yield obligasi negara ini membuka peluang investasi bagi instrumen reksadana campuran. Jenis investasi ini dinilai sangat strategis karena memberikan keleluasaan bagi manajer investasi untuk meracik komposisi portofolio antara saham dan obligasi secara fleksibel demi memaksimalkan potensi keuntungan dari kedua sektor tersebut.
Selain reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap juga masih sangat prospektif dalam memanfaatkan momentum tingginya yield obligasi pemerintah. Sementara itu, bagi para investor yang memprioritaskan keamanan likuiditas serta stabilitas modal di tengah fluktuasi pasar global, reksadana pasar uang tetap menjadi instrumen pertahanan yang handal.
Di sektor komoditas, harga emas spot terpantau mengalami koreksi tipis ke level US$4.093 per troy ons pada Jumat pagi. Penurunan harga yang relatif minor ini dapat dimanfaatkan oleh investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi aset secara bertahap, sekaligus memperkuat diversifikasi portofolio guna meminimalisasi risiko pasar.