JAKARTA - Tren olahraga kebugaran berintensitas tinggi terus mendapat tempat di kalangan masyarakat, terutama setelah kesadaran hidup sehat meningkat sejak pandemi Covid-19. Salah satu yang kini mencuri perhatian adalah Hyrox, olahraga hybrid yang menggabungkan lari dengan berbagai tantangan fungsional.

Berbeda dari olahraga tunggal, Hyrox menuntut kesiapan tubuh secara menyeluruh. Peserta tidak hanya perlu memiliki daya tahan untuk berlari, tetapi juga kekuatan, koordinasi, dan kemampuan beradaptasi saat berpindah dari satu tantangan fisik ke tantangan lainnya.

Namun, tingginya minat masyarakat terhadap kompetisi semacam ini dinilai belum selalu dibarengi pemahaman latihan yang benar. Banyak pemula masih menganggap rasa nyeri berlebihan setelah berolahraga sebagai tanda latihan yang berhasil, padahal kondisi tersebut bisa menjadi sinyal tubuh mengalami tekanan berlebih.

Mantan atlet golf nasional yang kini menekuni Hyrox bersama tim Hystoric, Gavrilla Arya, mengingatkan bahwa latihan tidak seharusnya hanya dikejar untuk merasakan sakit atau kelelahan. Menurut dia, tubuh memerlukan waktu pemulihan agar dapat beradaptasi dan berkembang.

“Kalau berlatih cuma untuk mencari rasa sakit, itu bukan latihan yang benar,” ujar Gavrilla saat ditemui di RESET Social Club, SCBD, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026).

Ia menambahkan, sebagian orang kerap merasa latihan baru dianggap maksimal apabila tubuh benar-benar lelah. Padahal, tanpa pemulihan yang memadai, proses adaptasi fisik tidak akan berjalan optimal dan justru dapat meningkatkan risiko cedera.

Selain persoalan pemulihan, kesalahan lain yang sering terjadi adalah persiapan yang terlalu bertumpu pada satu jenis olahraga. Dalam Hyrox, kemampuan berlari saja tidak cukup, begitu pula kekuatan di pusat kebugaran tanpa daya tahan lari yang memadai.

Pemilik F45 Semarang sekaligus pemegang Rekor Nasional Mixed Doubles Hyrox, Timothy Tjahja, mengatakan pelari tetap membutuhkan latihan kekuatan agar kaki dan tubuh mampu menghadapi beban rintangan. Sebaliknya, mereka yang terbiasa berlatih angkat beban juga perlu membangun kapasitas lari.

“Pelari pun harus strength training, karena kalau tidak, kakinya bisa tidak kuat. Begitu juga orang yang kuat di gym, ketika diminta ikut Hyrox bisa kebingungan karena tidak pernah berlari,” kata Timothy.

Karena itu, strategi latihan untuk Hyrox perlu dirancang secara seimbang. Salah satu metode yang dinilai penting adalah compromised running, yakni latihan berlari dalam kondisi tubuh sudah terbebani aktivitas fungsional sebelumnya.

Metode tersebut membantu peserta membiasakan diri menghadapi pola kompetisi Hyrox, yang menuntut transisi cepat antara lari dan penyelesaian stasiun rintangan. Dengan persiapan yang tepat, peserta dapat mengurangi risiko cedera sekaligus meningkatkan performa saat berlomba.

Para atlet menekankan, antusiasme mengikuti tren olahraga perlu diimbangi pemahaman dasar mengenai kemampuan tubuh, jadwal latihan yang bertahap, serta waktu istirahat yang cukup. Dengan cara itu, Hyrox dapat menjadi sarana membangun kebugaran secara aman, bukan sekadar ajang menguji batas fisik tanpa perhitungan.