Ada ungkapan menarik dari fisikawan Jerman, Werner Heisenberg, yang mengibaratkan hubungan manusia dan teknologi seperti laba-laba dengan jaringnya—tak terpisahkan. Namun, manusia bukan laba-laba; sebagai homo faber, manusia adalah pencipta teknologi yang terus berkembang. Dari kaca mata filsafat, teknologi memiliki banyak faset, mulai dari epistemologi tentang sifatnya, metafisika tentang yang alami atau tiruan, etika tentang penggunaannya, hingga persoalan politis tentang bagaimana teknologi mengubah cara hidup masyarakat.

Martin Heidegger, filsuf Jerman dari Freiburg dan Berlin, dalam karyanya "The Question Concerning Technology," mengemukakan sikap eksistensial terhadap teknologi. Heidegger melihat teknologi bukan sekadar alat, tetapi sebagai cara manusia memahami dunia. Ia memperingatkan bahwa teknologi tidak netral dan berpotensi menjebak manusia dalam pandangan yang sempit, melupakan hubungan yang lebih mendalam dengan hakikat keberadaannya. Teknologi modern, menurutnya, cenderung mendikte manusia melalui konsep Gestell atau enframing, yaitu penyingkapan realitas yang terbatas pada bingkai teknologis, sehingga segala sesuatu, termasuk alam, dipandang sebagai sumber daya untuk dieksploitasi.

Contoh nyatanya, hutan dalam pandangan Gestell hanya dilihat sebagai balok kayu atau komoditas bernilai ekonomi. Heidegger menegaskan bahwa "esensi teknologi bukanlah sesuatu yang teknologis," dan efisiensi teknologi justru bisa memperbesar risiko manusia kehilangan makna. Untuk itu, ia menawarkan konsep poiesis dari era Yunani Kuno, yang bermakna membiarkan sesuatu hadir menampakkan dirinya, berbeda dengan teknologi modern yang memaksa dan mengontrol.

Lebih lanjut, Heidegger mengembangkan konsep Gelassenheit, yang sering diterjemahkan sebagai releasement atau letting-be, menunjukkan bahwa ia tidak anti-teknologi. Gelassenheit adalah sikap yang memungkinkan ruang poiesis tetap terbuka di dunia modern, mendorong manusia untuk menemukan hubungan lebih otentik dengan dunia di luar fungsi teknis semata. Dengan pendekatan ini, hutan tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai ekosistem, pusat kehidupan satwa, warisan budaya, dan banyak aspek lainnya.

Gelassenheit pada akhirnya menuntut penyikapan terhadap teknologi di era sekarang: menerima atau menolak dengan kesadaran. Dalam konteks kecerdasan artifisial, nilai etis seperti human-centeredness dan inclusiveness harus dimaknai hati-hati. Manusia, sebagai Dasein, adalah satu-satunya subjek yang bisa menafsir, tetapi bukan pusat realitas absolut—Heidegger menyebut manusia sebagai "shepherd of Being" yang mendengarkan penyingkapan. Kecerdasan artifisial tidak boleh hanya untuk kepentingan manusia semata, tetapi juga harus memperhatikan subjek lain, tidak merusak peradaban, mencemari lingkungan, atau mendiskriminasi penggunanya, mencerminkan inklusivitas yang luas.