Tim Pelayanan Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang merilis temuan medis memprihatinkan dari pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Berdasarkan hasil skrining terhadap ratusan pengunjung, sebanyak 77,5 persen peserta tercatat mengalami gangguan kesehatan atau memiliki setidaknya satu parameter indikator medis di luar batas normal.

Posko kesehatan gratis yang diampu oleh Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Malang tersebut memeriksa 238 pengunjung yang datang dari 80 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Pemeriksaan mencakup empat parameter utama medis darurat, yakni tekanan darah, gula darah sewaktu, kadar asam urat, dan kolesterol total. Dari total peserta yang diperiksa secara komprehensif, 45,8 persen di antaranya bahkan menderita komorbiditas atau lebih dari dua indikator abnormal secara bersamaan.

Hipertensi menjadi ancaman kesehatan utama yang mendominasi selama berlangsungnya perhelatan akbar tersebut. Akumulasi data menunjukkan 74,7 persen peserta yang diuji memiliki tekanan darah di atas rentang normal, dengan 41,9 persen di antaranya terdiagnosis hipertensi tingkat tinggi. Tim medis menganalisis bahwa lonjakan kasus tekanan darah ini dipicu oleh kelelahan fisik akibat perjalanan jauh, kurangan waktu tidur di tengah padatnya jadwal muktamar, perubahan pola makan konsumsi massal yang tinggi garam, serta kelalaian peserta dalam membawa atau mengonsumsi obat rutin harian.

Selain masalah kardiovaskular, tim medis juga mengidentifikasi tingginya angka asam urat sebesar 35,4 persen akibat tingginya asupan purin dari katering lapangan, serta temuan kadar gula darah tinggi yang mencapai 16,7 persen. Di tengah pemeriksaan rutin, kejelian tim FKIK UIN Malang berhasil mendeteksi 24 kasus klinis ekstrem yang membutuhkan rujukan darurat ke fasilitas medis terdekat. Separuh dari kasus ekstrem tersebut merupakan krisis hipertensi dengan tekanan darah melebihi 180/120 mmHg yang sangat berisiko memicu stroke atau kegagalan organ fatal.

Rektor UIN Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, menegaskan bahwa pengerahan tim medis gabungan yang terdiri atas dosen, mahasiswa, hingga alumni dokter dan apoteker merupakan bagian dari pengabdian nyata perguruan tinggi untuk menjaga keselamatan warga Nahdliyin. Menindaklanjuti temuan tersebut, tim kesehatan merekomendasikan panitia kegiatan di masa mendatang untuk menyediakan katering rendah garam dan purin, menyusun jadwal yang lebih ramah bagi lansia, beralih ke digitalisasi data medis, serta memperkuat jalur evakuasi darurat yang terhubung langsung dengan rumah sakit setempat.