Memperingati Hari Hepatitis Sedunia yang jatuh setiap tanggal 28 Juli, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit peradangan hati ini. Hepatitis, yang dapat dipicu oleh infeksi virus maupun faktor non-virus, tetap menjadi ancaman serius karena berpotensi merusak fungsi hati hingga berujung pada kematian penderitanya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, angka prevalensi infeksi Hepatitis secara nasional tercatat mencapai 2,4 persen. Ketua Tim Kerja Surveilans Dinkes Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi R, menjelaskan bahwa angka tersebut menunjukkan potret yang cukup mengkhawatirkan. Menurutnya, dari setiap 100 warga Indonesia, rata-rata terdapat 2,4 orang yang terinfeksi, sehingga risiko penularan di lingkungan sekitar tergolong tinggi.

Guna mengantisipasi penyebaran penyakit ini, Pemerintah Kota Yogyakarta terus menggencarkan program imunisasi sejak dini. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, menekankan pentingnya ketepatan waktu pemberian vaksin. Pemberian vaksin dimulai dari imunisasi Hb0 sesaat setelah bayi lahir, disusul vaksin Heksavalen pada usia 2, 3, dan 4 bulan, serta imunisasi lanjutan DPT-HB-HIB saat anak menginjak usia 18 bulan.

Selain langkah preventif melalui vaksinasi, Puskesmas di seluruh wilayah Kota Yogyakarta juga aktif melakukan skrining dini melalui tes fungsi hati (SGOT/SGPT). Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri jika mendapati tiga gejala utama hepatitis, yakni perubahan warna kuning pada kulit dan mata (ikterus), urine yang pekat seperti air teh, serta tinja berwarna pucat yang disertai muntah terus-menerus dan demam.