Koreksi harga emas dalam beberapa waktu terakhir tidak serta-merta mengurangi minat masyarakat terhadap investasi logam mulia. PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI menyatakan bisnis berbasis emas, mulai dari bullion, cicil emas, hingga gadai emas, masih mencatat pertumbuhan yang kuat.
Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar, mengatakan emas tetap dipandang sebagai salah satu instrumen investasi yang diminati karena dinilai mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Selain itu, emas juga dianggap relatif tahan terhadap tekanan inflasi.
Menurut Wisnu, tren bisnis emas di BSI sejak awal 2026 masih menunjukkan daya tarik yang besar bagi masyarakat. Ia menyebut karakter emas sebagai instrumen investasi berbasis syariah turut menjadi faktor yang memperkuat minat nasabah.
BSI saat ini mengembangkan sejumlah layanan emas, termasuk sebagai bullion bank. Perseroan juga menyediakan layanan BSI Emas yang memungkinkan nasabah membeli emas fisik secara digital melalui aplikasi BYOND by BSI.
Melalui kanal digital tersebut, nasabah dapat mulai menabung emas dari nominal Rp 50.000. Transaksi juga dapat dilakukan secara real time, sementara pencetakan emas fisik tersedia mulai dari 2 gram.
Wisnu menjelaskan, kemudahan akses digital ikut mendorong pertambahan pengguna layanan BSI Emas. Dalam kurun sekitar satu tahun, jumlah rekening pengguna BSI Emas disebut telah bertambah lebih dari 1 juta rekening.
Pertumbuhan juga terlihat pada bisnis cicil emas. Hingga April 2026, outstanding pembiayaan cicil emas BSI mencapai Rp 16,93 triliun. Angka tersebut melonjak 97,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BSI menilai kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya diversifikasi investasi. Emas dinilai menjadi salah satu pilihan untuk mendukung tujuan keuangan jangka menengah dan panjang.
Di segmen gadai emas, kinerja BSI juga masih solid. Hingga April 2026, outstanding gadai emas tercatat naik sekitar 100 persen secara tahunan menjadi Rp 13 triliun.
Rata-rata transaksi gadai emas BSI mencapai sekitar 120.000 transaksi per bulan. Wisnu menyebut tingginya aktivitas tersebut antara lain dipengaruhi kebutuhan dana masyarakat menjelang tahun ajaran baru sekolah.
Ke depan, BSI tetap optimistis bisnis emas masih memiliki ruang pertumbuhan. Perseroan menilai pelemahan harga dalam jangka pendek tidak mengubah karakter emas sebagai instrumen investasi untuk kebutuhan jangka menengah dan panjang.