Negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menegaskan komitmen kolektif mereka untuk memperkokoh arsitektur keamanan kesehatan di kawasan. Langkah ini diambil guna meningkatkan kesiapsiagaan, pencegahan, serta respons cepat terhadap potensi darurat kesehatan global dan pandemi di masa mendatang.

Komitmen bersama tersebut disepakati oleh para Menteri Luar Negeri ASEAN dalam pertemuan diplomatik di Manila, Filipina. Melalui komunike bersama yang dirilis secara resmi, para delegasi menekankan pentingnya membangun sistem kesehatan regional yang tangguh, berkelanjutan, berkeadilan, serta berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

Salah satu poin krusial yang didorong dalam pertemuan tersebut adalah percepatan penyelesaian Perjanjian Pendirian Pusat ASEAN untuk Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Menular (ACPHEED). Kehadiran pusat studi dan respons ini diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam mendeteksi dan menangani ancaman penyakit menular secara lebih terorganisasi di Asia Tenggara.

Selain fokus pada mitigasi pandemi, kerja sama lintas sektor ini juga mencakup upaya penanganan malnutrisi secara menyeluruh. ASEAN berkomitmen mendorong produksi pangan sehat, memperketat regulasi penjualan dan konsumsi rokok elektrik (ENDS/ENNDS), serta memperkuat kemandirian kawasan dalam memproduksi vaksin, obat-obatan, dan alat diagnostik secara mandiri.

Guna mendukung transformasi tersebut, negara-negara anggota akan mengadopsi pendekatan One Health, memperkuat biosekuriti, dan mempercepat digitalisasi sektor kesehatan lewat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang bertanggung jawab. Rencana strategis ini turut menyasar penguatan layanan kesehatan mental, kesejahteraan kelompok rentan, penyandang disabilitas, serta kesiapan fasilitas sosial dalam menghadapi tren populasi lansia yang terus bertumbuh.