Saham raksasa teknologi asal Amerika Serikat, IBM, mengalami penurunan tajam sebesar 24 persen pada pertengahan Juli lalu. Koreksi signifikan ini terjadi setelah perusahaan merilis estimasi pendapatan kuartal kedua yang berada di bawah target pasar, dipicu oleh keterlambatan IBM dalam mengantisipasi dinamika belanja konsumen yang kini bergeser cepat ke arah kecerdasan buatan (AI).

CEO IBM, Arvind Krishna, secara terbuka mengakui lambatnya proses transformasi internal perusahaan dalam merespons perkembangan teknologi baru ini. Pada kuartal yang berakhir Juni tersebut, IBM membukukan total pendapatan sebesar 17,2 miliar dolar AS, atau hanya tumbuh tipis satu persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Fenomena lonjakan adopsi AI global membuat korporasi memprioritaskan anggaran mereka untuk membeli server khusus, cip memori, dan perangkat penyimpanan guna mendukung pemrosesan data cerdas. Akibatnya, alokasi anggaran untuk produk komputer mainframe tradisional dan perangkat lunak IBM—yang selama ini menjadi penyumbang margin keuntungan terbesar dari sektor perbankan dan korporasi skala besar—mengalami penyusutan drastis.

Laporan keuangan menunjukkan bahwa pendapatan dari segmen infrastruktur IBM, termasuk lini mainframe utama, menyusut sebesar 7 persen. Sementara itu, meskipun sektor perangkat lunak secara umum tumbuh 5 persen, angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi analis. Di tengah tekanan ini, divisi perangkat lunak sumber terbuka Red Hat masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 11 persen, didorong oleh kebutuhan integrasi sistem.

Selain pergeseran pasar AI, kekhawatiran terkait keamanan siber juga menunda sejumlah kesepakatan kontrak besar IBM. Analis menilai, kehadiran model AI terbaru bernama Mythos besutan Anthropic—yang mampu mendeteksi celah keamanan sistem komputer secara instan—telah memaksa banyak perusahaan menunda investasi teknologi luar dan memprioritaskan penguatan pertahanan siber mereka.

Dampak dari perlambatan IBM ini turut memicu kecemasan pelaku pasar terhadap prospek bisnis penyedia Software-as-a-Service (SaaS) tradisional, yang ditandai dengan melemahnya saham kompetitor seperti Salesforce, Adobe, dan Intuit. Menanggapi tantangan keamanan siber ini, IBM mengumumkan proyek "Lightwell" senilai 5 miliar dolar AS untuk mengatasi kerentanan sistem sumber terbuka, sebuah langkah strategis yang didukung oleh institusi keuangan raksasa seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs.