Pemerintah Indonesia terus memperkuat ambisinya dalam memperluas jaringan transportasi udara nasional. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat bahwa hingga saat ini sebanyak 257 bandar udara telah beroperasi di seluruh penjuru Nusantara. Tak berhenti di situ, sebanyak 39 lokasi baru telah ditetapkan masuk dalam peta rencana pembangunan, sehingga Indonesia menargetkan total 296 bandara aktif guna menjamin konektivitas hingga ke wilayah paling terpencil.

Rencana strategis tersebut dipaparkan langsung oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa ketika membuka Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI) Tahun 2026 di Jakarta, Sabtu (27/6). Dalam sambutannya, Lukman menekankan bahwa pembangunan infrastruktur penerbangan di Indonesia menghadapi tantangan geografis luar biasa kompleks, mulai dari lahan rawa, tanah gambut, pesisir pantai, hingga dataran tinggi pegunungan.

Menghadapi kondisi medan yang beragam tersebut, Kementerian Perhubungan mendesak IABI agar terus mencetak tenaga ahli yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi terkini. Salah satu teknologi yang diharapkan dapat dioptimalkan adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung perencanaan maupun pelaksanaan proyek kebandarudaraan.

"Saya berharap IABI melahirkan SDM yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence, serta mampu berkontribusi pada berbagai proyek kebandarudaraan di tingkat regional maupun global," tegas Lukman dalam forum tersebut.

Selain mengejar kuantitas, orientasi pembangunan bandara di Indonesia juga mulai bertransformasi menuju konsep ramah lingkungan yang dikenal sebagai eco airport serta bandara berbasis teknologi digital atau smart airport. Visi ini turut diperkuat oleh mantan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono yang tampil sebagai pembicara utama pada acara tersebut. Menurutnya, pendekatan berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi digital menjadi keniscayaan agar bandara-bandara Indonesia mampu bersaing di kancah internasional.

Munas IABI 2026 sekaligus menandai pergantian kepemimpinan organisasi. Tongkat estafet secara resmi berpindah dari Ketua Umum periode 2016–2026 Moh. Iksan Tatang kepada M. Pramintohadi Soekarno yang diamanatkan memimpin IABI untuk masa bakti 2026–2029. Dengan kepengurusan baru ini, kolaborasi antara pemerintah, kalangan akademisi, serta pelaku industri penerbangan diharapkan semakin sinergis dalam mendorong pembangunan infrastruktur udara yang kompetitif secara global.