Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen mempercepat hilirisasi sektor pertanian guna memperkuat perekonomian daerah. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menekankan pentingnya riset dan inovasi sains terapan yang aplikatif untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi masyarakat pedesaan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur saat membuka Seminar Nasional IPTEK Terapan (SIPTEKTERA) di Gedung Serba Guna Politeknik Negeri Lampung. Menurutnya, pembangunan daerah ke depan tidak lagi sekadar menimbun teori ilmiah, melainkan mentransformasikan hasil riset menjadi solusi konkret bagi produktivitas warga.

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan produksi padi mencapai 3,5 juta ton per tahun, Lampung memiliki potensi agraria yang sangat besar. Kendati demikian, Gubernur menyoroti tantangan klasik berupa fluktuasi harga komoditas mentah. Sebagian besar hasil bumi, seperti kopi, masih dikirim keluar daerah dalam bentuk biji mentah (green bean), sehingga nilai tambah ekonomi belum dinikmati secara optimal oleh masyarakat lokal.

Mengatasi hal tersebut, Pemprov Lampung menginisiasi konsep hilirisasi inklusif berbasis desa. Berbeda dengan industri skala besar yang cenderung padat modal dan minim penyerapan tenaga kerja lokal, pendekatan ini berfokus pada pemberdayaan ekosistem desa melalui penyediaan fasilitas penunjang seperti mesin pengering komoditas (dryer) dan alat pengolahan pakan mandiri.

Dengan adanya integrasi teknologi ini, desa diharapkan mampu mengolah hasil panennya secara mandiri. Jagung mentah, misalnya, dapat diproses menjadi pakan ternak untuk mendukung budidaya unggas lokal. Siklus ini diyakini mampu menciptakan kedaulatan pangan dari unit terkecil sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi lulusan muda di daerah.

Gubernur meminta institusi pendidikan tinggi, khususnya Politeknik Negeri Lampung, berada di garda terdepan dalam merancang teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan riil lapangan. Selain kesiapan teknologi, Pemprov Lampung juga tengah merancang program beasiswa khusus untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap membangun dan memimpin hilirisasi di desa asal mereka.