Permainan tradisional layang-layang sambetan kini kembali marak dan digemari oleh berbagai kalangan usia di Malang Raya. Bukan sekadar pengisi waktu luang di sore hari, aktivitas ini telah berkembang menjadi ekosistem sosial dan ekonomi yang produktif bagi masyarakat setempat.
Peningkatan minat terhadap layang-layang aduan ini memberikan dampak positif langsung pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Para perajin bambu, kertas khusus, hingga produsen benang gelasan di Malang mengalami lonjakan permintaan, membuktikan bahwa hobi tradisional mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Pertumbuhan hobi ini juga ditandai dengan terbentuknya sekitar 50 klub layang-layang yang tersebar di wilayah Malang Raya. Komunitas-komunitas tersebut aktif menjadi ruang bertukar keahlian dalam merakit layangan aerodinamis serta mempererat silaturahmi antarwarga dari berbagai latar belakang.
Salah satu tokoh penggerak layangan sambetan asal Malang, Saipul "Doble Koclok" atau akrab disapa Cak Ipul, mengungkapkan bahwa kebangkitan tren ini mulai terasa signifikan sejak era 2000-an. Menurutnya, antusiasme masyarakat kian memuncak saat musim liburan tiba, di mana lapangan-lapangan lokal dipadati oleh warga yang ingin bernostalgia maupun berkompetisi.
Selain aspek rekreasional, bermain layang-layang dinilai memiliki manfaat kesehatan fisik dan mental, seperti mengurangi kecanduan gawai pada anak, melatih saraf motorik, dan melatih fokus visual. Kegemaran ini bahkan telah naik kelas ke ranah profesional melalui penyelenggaraan turnamen tingkat nasional yang kerap menarik minat peserta mancanegara.