Pasar keuangan Korea Selatan mengalami tekanan jual hebat pada perdagangan Senin (13/7), yang menyebabkan indeks acuan KOSPI merosot tajam sebesar 8,95% ke level 6.806,93. Penurunan ini mencerminkan kegelisahan mendalam para investor di tengah eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta adanya sentimen negatif yang membayangi sektor teknologi global.
Aksi jual massal ini bahkan memaksa otoritas bursa untuk mengaktifkan mekanisme circuit breaker guna menghentikan seluruh transaksi saham selama 20 menit. Langkah darurat ini diambil setelah indeks mencatatkan pelemahan lebih dari 8% dalam waktu singkat, sebuah upaya untuk meredam kepanikan pasar yang dipicu oleh ancaman blokade Selat Hormuz oleh Iran.
Sektor teknologi, yang menjadi tulang punggung ekonomi Korea Selatan, menjadi sasaran utama aksi lepas saham. Raksasa teknologi seperti Samsung Electronics mencatatkan penurunan sebesar 10,70%, sementara SK Hynix terpangkas hingga 15,37%. Kekhawatiran pelaku pasar bahwa pertumbuhan laba industri semikonduktor telah mencapai puncaknya berhasil menutupi sentimen positif dari rekor laba kuartal kedua Samsung.
Di sisi lain, investor asing dan institusi mendominasi aksi jual, sementara investor ritel mencoba mengambil kesempatan dengan melakukan pembelian saat harga saham berada di level rendah. Ketidakpastian ini juga berdampak pada nilai tukar won yang melemah ke level 1.503,4 per dolar AS di penutupan perdagangan sore.
Selain sektor teknologi, sejumlah emiten industri besar lainnya pun ikut tertekan, seperti Doosan Enerbility yang turun 6,27% dan Hyundai Motor yang melemah 2,95%. Meski indeks KOSDAQ turut tergerus 4,55%, para analis terus memantau perkembangan situasi global guna memprediksi arah pemulihan pasar di hari-hari mendatang.