PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH) menunjukkan lompatan kinerja finansial yang signifikan pada paruh pertama tahun 2026. Langkah berani emiten telekomunikasi ini untuk bermigrasi dari penyedia konektivitas konvensional menjadi pionir teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai membuahkan hasil konkret.

Sepanjang semester pertama yang berakhir pada 30 Juni 2026, Indosat berhasil mengantongi pendapatan sebesar Rp30,7 triliun, tumbuh impresif sebesar 13,1 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan positif juga tercatat pada pos EBITDA yang terkerek 14 persen YoY menjadi Rp14,6 triliun, menghasilkan margin EBITDA yang sehat di angka 47,6 persen. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi melonjak tajam hingga 49,2 persen YoY, mencapai Rp3,2 triliun.

Pendorong utama rapor hijau ini adalah efisiensi operasional yang ketat serta integrasi teknologi AI ke dalam layanan konsumen. Fitur-fitur inovatif seperti Anti-Spam, Anti-Scam, Sahabat-AI, Gemini AI, dan Adobe Express kini menjadi bagian dari ekosistem digital pelanggan. Strategi ini sukses meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) sebesar 17,3 persen YoY menjadi Rp46 ribu, dengan total basis pelanggan seluler yang stabil di angka 93,4 juta pengguna.

President Director dan Chief Executive Officer Indosat, Vikram Sinha, menegaskan bahwa kecerdasan buatan telah menjadi arah kompas baru bagi masa depan korporasi. Menurutnya, pertumbuhan dua digit ini membuktikan bahwa peta jalan transformasi perusahaan berada di jalur yang benar untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.

Guna memperkuat fondasi finansialnya, Indosat mengadopsi model bisnis asset-light melalui kolaborasi strategis dengan Arsari Group untuk membentuk PT Infra Fiber Teknologi (IFT). Dengan mengalihkan pengelolaan lebih dari 86.000 kilometer jaringan serat optik nasional, Indosat meraih dana segar senilai Rp11,7 triliun. Likuiditas tambahan ini langsung dialokasikan untuk mendanai sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi, khususnya infrastruktur digital dan komputasi awan berbasis AI.

Hasil dari fokus baru ini langsung terlihat pada lini bisnis AI Cloud. Sepanjang paruh pertama 2026, unit bisnis ini sukses meraup pendapatan sebesar 33 juta dolar AS. Angka tersebut melampaui total realisasi pendapatan AI Cloud sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar 28 juta dolar AS, menandakan tingginya permintaan industri terhadap infrastruktur AI yang andal dan berdaulat.

Untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan data, Indosat menambah kapasitas jaringannya dengan spektrum baru sebesar 80 MHz di pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Infrastruktur ini disiapkan untuk menopang ekspansi jaringan 5G serta layanan Fixed Wireless Access (FWA). Di sisi lain, optimalisasi jaringan berbasis AI ini juga berhasil memangkas emisi karbon hingga 50,89 persen, yang mengantarkan Indosat masuk ke dalam tiga indeks ESG KEHATI yang prestisius.

Tak hanya fokus pada profitabilitas, Indosat juga berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia guna menopang ekosistem AI nasional. Bermitra dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI dan Wadhwani Foundation, perseroan berkomitmen melahirkan satu juta talenta digital dan mencetak 100.000 wirausaha berbasis AI hingga tahun 2029 mendatang.