Sebuah tren mengkhawatirkan tengah mengemuka di kalangan Generasi Z, di mana media sosial kini menjadi referensi utama untuk mencari jawaban atas berbagai keluhan kesehatan. Survei tahunan dari Edelman pada 2025 yang melibatkan 16 ribu responden usia 18-34 tahun menunjukkan pergeseran perilaku yang signifikan: sekitar 38 persen anak muda lebih memercayai informasi dari platform digital ketimbang tenaga medis profesional.

Data tersebut mempertegas pengamatan klinis yang kerap ditemui para dokter. dr. Charles Carlsen dari DRSONO Medical mengungkapkan bahwa banyak pasien usia muda datang ke klinik dengan opini yang sudah terbentuk kaku, yang bersumber dari konten kreator atau influencer di media sosial. Fenomena ini diperparah dengan temuan bahwa sepertiga Gen Z berani mengambil keputusan medis krusial hanya berdasarkan saran dari pihak tanpa latar belakang pendidikan kedokteran.

Dampak dari ketergantungan pada algoritma media sosial ini tidak bisa dianggap remeh. Para ahli medis memperingatkan bahwa misinformasi yang beredar cepat di TikTok dapat memicu diagnosis mandiri yang keliru, penundaan penanganan penyakit serius, hingga penyalahgunaan metode pengobatan yang berbahaya. Sebagai contoh, tren kesehatan viral seperti memasukkan bawang putih ke hidung justru terbukti berisiko tinggi melukai jaringan mukosa, alih-alih memberikan manfaat kesembuhan.

Penelitian dari University of Chicago Pritzker School of Medicine turut memperkuat temuan ini, di mana hampir separuh dari konten kesehatan yang dianalisis di platform tersebut mengandung informasi yang tidak akurat. Ironisnya, konten dari kreator non-medis seringkali memiliki jangkauan audiens yang jauh lebih luas dibandingkan konten berbasis bukti ilmiah yang diunggah oleh praktisi medis profesional.

Menghadapi realitas ini, para profesional kesehatan kini didorong untuk lebih proaktif menduduki ruang digital. Langkah serupa telah diambil oleh layanan kesehatan nasional Inggris (NHS) yang meluncurkan akun resmi di TikTok sebagai bentuk mitigasi terhadap ancaman misinformasi yang dianggap membahayakan kesehatan masyarakat. Inisiatif ini diharapkan mampu mengimbangi arus informasi menyesatkan dengan edukasi yang valid dan terpercaya bagi generasi yang semakin terdigitalisasi.