Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di tiga provinsi—Jawa Barat, Banten, dan Lampung—berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Gunung api aktif di Selat Sunda tersebut meletus secara beruntun sejak pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa fenomena erupsi berupa pancaran lava air mancur (lava fountain) berdurasi beberapa jam kerap menghasilkan dentuman keras akibat pelepasan gas secara cepat serta turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi pada lubang kepundan. Gelombang suara berfrekuensi rendah tersebut mampu merambat ratusan kilometer melintasi lapisan atmosfer sebelum akhirnya terbiaskan kembali ke permukaan bumi.

Kondisi atmosferik seperti variasi suhu, tekanan udara, dan arah angin di ketinggian memungkinkan fenomena pembelokan suara ini terjadi. Alhasil, getaran hingga pintu dan kaca rumah yang bergoyang dapat dirasakan hingga kawasan Bandung Raya yang berjarak sekitar 700 kilometer secara garis lurus dari pusat erupsi, meskipun beberapa area pesisir yang lebih dekat justru tidak mendengar dentuman secara jelas.

Meski memicu kekhawatiran warga, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu spekulatif mengenai potensi tsunami. Lana menegaskan bahwa rekonstruksi tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi besar pada Desember 2018 saat ini masih relatif kecil, sehingga tidak berisiko mengalami keruntuhan skala besar yang dapat membangkitkan gelombang tsunami.

Saat ini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau bertahan di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Pihak berwenang melarang keras seluruh aktivitas warga, wisatawan, maupun pendaki dalam radius steril 3 kilometer dari puncak kawah guna mengantisipasi bahaya lontaran batu pijar, aliran lava, serta paparan abu vulkanik. Masyarakat diimbau selalu memantau perkembangan informasi resmi melalui kanal PVMBG dan aplikasi MAGMA Indonesia.