Elon Musk resmi kehilangan statusnya sebagai satu-satunya triliuner di dunia. Penurunan kekayaan bersih yang tajam ini terjadi kurang dari dua minggu usai SpaceX melantai di bursa saham Nasdaq. Data Bloomberg Billionaires Index memperlihatkan total kekayaan Musk merosot menjadi 957 miliar dolar AS pada Selasa (23/6), dari sebelumnya sempat melampaui 1,11 triliun dolar AS.

Pemicu utama jatuhnya kekayaan tersebut adalah anjloknya nilai saham dua perusahaan teknologi yang didirikan Musk, yakni SpaceX dan Tesla. Penurunan ini merupakan bagian dari koreksi pasar yang lebih luas terhadap saham teknologi, didorong oleh kekhawatiran investor mengenai profitabilitas jangka panjang teknologi kecerdasan buatan (AI) serta beban biaya infrastruktur dan modal yang tinggi.

Pada puncak euforia pasca-IPO SpaceX yang bersejarah pada 12 Juni, nilai perusahaan roket tersebut melambung hingga mencapai valuasi lebih dari 1,77 triliun dolar AS. Kepemilikan Musk sekitar 42 persen saham SpaceX saat itu langsung mendorong kekayaan bersihnya menembus angka 1 triliun dolar AS untuk pertama kalinya. Antusiasme investor bahkan mendorong harga saham SpaceX ke puncak 225,64 dolar AS pada 16 Juni.

Namun, reli ini tidak bertahan lama. Saham SpaceX mengalami pukulan terberat dalam gelombang jual teknologi, anjlok lebih dari 30 persen dari puncaknya. Pada Senin (22/6) yang penuh gejolak, saham perusahaan tersebut merosot 16 persen dalam satu hari, menghapus sekitar 240 miliar dolar AS dari kekayaan pribadi Musk. Kerugian semakin bertambah ketika saham Tesla, perusahaan mobil listrik tempat Musk menjabat sebagai CEO, juga merosot hampir 6 persen pada hari berikutnya. Musk memiliki sekitar 12 persen saham Tesla.

Status triliuner Musk dinilai sangat rentan karena konsentrasi kekayaannya yang ekstrem. Berbeda dengan miliarder tradisional yang memiliki portofolio terdiversifikasi, hampir 80 persen kekayaan bersih Musk terikat pada dua perusahaan saja: SpaceX dan Tesla. Analis keuangan mencatat bahwa volatilitas pasca-IPO semacam ini adalah hal yang wajar untuk perusahaan pertumbuhan bernilai tinggi, meskipun skala pergerakannya mencerminkan ketegangan antara ekspektasi pasar yang tinggi dan realitas fundamental.

"Investasi pada saham seperti SpaceX sering kali didorong oleh emosi dan antisipasi akan lompatan besar dalam eksplorasi ruang angkasa. Namun, keputusan investasi harus dilakukan dengan kepala jernih dan kesabaran, bahkan ketika angka-angka yang sangat besar terlibat," ujar Danni Hewson, Kepala Analisis Finansial di AJ Bell, seperti dikutip dari BBC. Tekanan lanjutan diprediksi akan terus berlanjut, terutama setelah pembatasan penjualan saham oleh pihak dalam perusahaan dicabut pada akhir Juli.

Meskipun demian, posisi Musk di urutan teratas daftar orang terkaya dunia belum tergoyahkan. Ia masih menjadi orang terkaya di dunia dengan kekayaan yang jauh melampaui rival terdekatnya. Analis juga memperkirakan bahwa pemulihan moderat sebesar 6 persen pada nilai saham SpaceX saja sudah cukup untuk mengembalikan status triliuner kekayaannya, yang berpotensi menjadikannya miliarder pertama di dunia yang kekayaannya terus melonjak meski di tengah gejolak pasar.