Raksasa keuangan global, JPMorgan Chase & Co., kini menerapkan langkah strategis dalam mengelola penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kerja mereka. Perusahaan memilih bersikap lebih selektif dalam menentukan kapan harus menggunakan model kecerdasan buatan yang canggih dan mahal, serta kapan cukup memanfaatkan sistem yang lebih sederhana.
CFO JPMorgan, Jeremy Barnum, mengungkapkan bahwa tidak semua pekerjaan menuntut komputasi tingkat tinggi. Menurutnya, tugas-tugas administratif seperti merangkum laporan analisis tidak memerlukan model AI paling mutakhir yang memakan biaya besar. Prinsip utamanya adalah mencocokkan teknologi dengan kebutuhan operasional secara tepat guna.
Saat ini, manajemen JPMorgan tengah mengevaluasi pengeluaran token komputasi mereka secara berkala. Barnum memproyeksikan pengeluaran untuk AI pada paruh pertama tahun ini masih tergolong rendah, namun berpotensi melonjak pada paruh kedua, meskipun secara keseluruhan pengeluaran tahunan dipastikan tetap terkendali.
Langkah efisiensi ini mencerminkan kecemasan yang meluas di berbagai sektor industri. Meskipun para pemimpin perusahaan mendorong karyawannya memanfaatkan kecerdasan buatan demi produktivitas, kekhawatiran akan pembengkakan biaya operasional teknologi ini mulai memicu pembatasan penggunaan AI di sejumlah korporasi global.