RIAU - Capaian akademik kembali datang dari lingkungan Universitas Hang Tuah Pekanbaru (UHTP). Yuda Irawan, dosen Program Studi Teknik Informatika, berhasil menyelesaikan Sidang Tertutup Program Doktor Teknologi Informasi di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang.

Dalam sidang yang berlangsung pada 18 Juni 2026 itu, Yuda mempertahankan disertasi yang berfokus pada pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung deteksi dini risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Disertasi tersebut mengangkat judul Model Hybrid Stacking Ensemble Learning (HSEL) Terintegrasi IoT untuk Optimasi Deteksi Tingkat Risiko Kebakaran Secara Real-Time. Penelitian itu dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. H. Sarjon Defit dan Ko-Promotor Assoc. Prof. Dr. Rini Sovia.

Riset yang dikembangkan Yuda berangkat dari persoalan karhutla yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan serius, terutama di wilayah Riau. Melalui pendekatan HSEL yang dipadukan dengan perangkat IoT, sistem yang dirancangnya ditujukan untuk membaca dan menganalisis tingkat risiko kebakaran secara langsung atau real-time.

Menurut Yuda, model tersebut mengombinasikan kemampuan machine learning dengan sensor berbasis IoT agar proses deteksi risiko kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan akurat dibandingkan pendekatan konvensional.

"Alhamdulillah, saya bersyukur dapat menyelesaikan Sidang Tertutup Program Doktor dengan baik. Penelitian ini merupakan hasil pengembangan model kecerdasan buatan yang mengombinasikan machine learning dan Internet of Things untuk menghasilkan sistem deteksi risiko kebakaran yang lebih akurat dan dapat bekerja secara real-time," ujar Yuda Irawan saat berbincang bersama RiauAktual.com, Sabtu (27/6/2026).

Selama menjalani studi doktoral, Yuda juga mencatatkan sejumlah capaian ilmiah. Ia meraih H-Index Scopus 17, yang menunjukkan konsistensi publikasi pada karya ilmiah bereputasi internasional. Hasil penelitiannya turut dipublikasikan pada prosiding IEEE terindeks Scopus serta jurnal internasional bereputasi Scopus Q2.

Yuda menegaskan, pengembangan model HSEL tidak berhenti pada penyelesaian disertasi. Ke depan, model tersebut akan diuji menggunakan beragam dataset agar kemampuan generalisasinya semakin kuat dan dapat diterapkan pada konteks kebencanaan yang lebih luas.

Ia menyebut, teknologi serupa berpeluang dikembangkan untuk mendukung mitigasi bencana lain, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga berbagai ancaman hidrometeorologi yang kerap terjadi di Indonesia.

"Harapannya teknologi ini dapat memberikan kontribusi lebih luas dalam pengembangan sistem mitigasi bencana berbasis kecerdasan buatan di Indonesia," tambahnya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi berbagai pemangku kepentingan, termasuk BMKG, BPBD, pemerintah daerah, dan lembaga riset, dalam membangun sistem peringatan dini yang lebih adaptif, presisi, dan berkelanjutan.

Keberhasilan Yuda meraih gelar doktor tidak hanya menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademiknya, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi di Riau dalam mendorong inovasi teknologi untuk menjawab persoalan lingkungan dan kebencanaan.