Kebutuhan akan konsep pariwisata yang ramah lingkungan kian meningkat di Indonesia. Menjawab tantangan ini, sektor perhotelan mulai mengintegrasikan prinsip keberlanjutan tidak hanya sebagai upaya menjaga kelestarian alam, melainkan juga sebagai strategi efisiensi operasional jangka panjang.
Salah satu langkah konkret ditunjukkan oleh Swiss-Belhotel Bogor, yang berada di bawah naungan PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI). Hotel ini meluncurkan program percontohan pencucian dan pembersihan fasilitas ramah lingkungan (Circular Laundry and Facility Cleaning Pilot Program) yang bekerja sama dengan pihak Siklus. Langkah ini menjadi bagian penting dalam penerapan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkup korporasi.
Bernardus Djonoputro, Komisaris Independen PT IKAI, menjelaskan bahwa inisiatif ramah lingkungan di wilayah Bogor memegang peranan krusial sebagai daerah penyangga DKI Jakarta. Menurutnya, pengurangan polusi air dan tanah di kawasan Bogor secara otomatis memberikan kontribusi positif bagi kelestarian lingkungan di sekitar ibu kota.
Direktur Utama PT IKAI, Desra Ghazfan, menegaskan bahwa penerapan ESG ini menjadi bukti nyata bahwa pelaku usaha kini memiliki instrumen terukur untuk menilai dampak sosial dan lingkungan dari bisnis mereka, di samping pencapaian keuntungan finansial semata.
Dalam operasionalnya, General Manager Swiss-Belhotel Bogor, Heru Wibowo, memaparkan bahwa pihaknya menggunakan produk pembersih berbasis formula ramah lingkungan yang dipasok oleh PT Siklus Indonesia. Produk ini diformulasikan secara aman dan digunakan untuk berbagai kebutuhan hotel, mulai dari pencucian pakaian, pembersihan dapur, area publik, hingga perawatan perabot. Inisiatif ini juga mendukung industri nasional karena memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 70 persen.
Dari aspek bisnis, efisiensi yang dihasilkan terbilang cukup signifikan. Penerapan metode hijau ini diproyeksikan mampu memangkas biaya operasional hotel hingga 30 persen pada periode 2025–2026, dan ditargetkan terus meningkat hingga 60 persen pada tahun 2030. Selain itu, pengelolaan limbah air yang aman kini mampu menjaga pH air pembuangan tetap netral sebelum dialirkan kembali ke ekosistem sungai.