Penguatan hilirisasi mineral ramah lingkungan di Indonesia kembali mencatatkan momentum penting dengan diresmikannya PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek prestisius ini mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan untuk mengolah bijih nikel menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Sebagai bagian dari konsorsium multinasional yang melibatkan EcoPro (Korea Selatan), GEM Co., Ltd. (Tiongkok), PT Vale Indonesia, dan SmartC (Singapura), PT BNSI menerapkan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Fasilitas dengan kapasitas mencapai 1.268 meter kubik ini digadang-gadang sebagai salah satu yang terbesar di dunia untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan tingkat emisi karbon yang rendah.

Kehadiran proyek strategis nasional ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah melalui pemberian insentif fasilitas kawasan berikat oleh Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara). Kemudahan fiskal ini dirancang untuk memangkas biaya operasional serta mempercepat arus logistik demi membangun iklim investasi yang kondusif di sektor industri hijau.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan pentingnya investasi berkualitas tinggi seperti yang ditunjukkan oleh PT BNSI. Menurutnya, pengembangan kawasan industri hijau ini merupakan contoh nyata transformasi industri Indonesia menuju keberlanjutan ekonomi yang membawa dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Sinergi internasional dalam proyek ini juga mendapat apresiasi tinggi. Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Yoon Soongu, menyebut kolaborasi tripartit antara Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok sebagai fondasi kokoh untuk memimpin industri mineral global. Sementara itu, Chairman GEM Group Xu Kaihua mengapresiasi kinerja Bea Cukai yang dinilai responsif dan suportif dalam memperlancar proses kepabeanan peralatan industri.

Dampak positif dari kebijakan insentif fiskal ini tercermin nyata pada performa ekonomi kawasan Morowali. Sepanjang Semester I tahun 2026, nilai pembebasan pajak dan penangguhan bea masuk di kawasan berikat setempat mencapai Rp13,7 triliun. Kebijakan ini sukses memicu lonjakan devisa ekspor hingga Rp236 triliun, tumbuh signifikan sebesar 56 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Ke depan, kawasan IGIP yang berdiri di atas lahan seluas 1.500 hektare ini diproyeksikan menarik total investasi melebihi USD10 miliar. Dengan nilai produksi tahunan yang diperkirakan mencapai USD15 miliar, kawasan industri hijau terpadu ini ditargetkan mampu menyerap lebih dari 88.000 tenaga kerja lokal sekaligus memperkuat ekosistem manufaktur berkelanjutan.