Pasar digital Indonesia kian menarik perhatian dunia. Sebanyak tujuh korporasi teknologi global resmi memperluas jangkauan bisnis mereka ke Tanah Air demi menjawab tantangan transformasi digital dan kebutuhan keamanan siber yang kian kompleks. Langkah ekspansi strategis ini direalisasikan melalui kemitraan dengan PT Aswant Distribution Indonesia yang bertindak sebagai distributor dan mitra lokal.
Ketujuh entitas global tersebut adalah KasperskyOS, Centerm, Qualys, SecureKi, TSplus, Foxit Software, dan Cinimex. Masing-masing membawa keahlian khusus yang telah teruji di pasar internasional, mulai dari perlindungan dokumen digital, manajemen identitas, ruang kerja digital, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dalam forum perkenalan di Jakarta, perwakilan dari SecureKi, Wun Tyng, menyatakan bahwa pihaknya fokus membawa solusi pengelolaan identitas dan hak akses istimewa (Identity and Privileged Access Management) berbasis Linux ke Indonesia. Di sisi lain, President of APAC Foxit Software, Jenny Li, menilai pesatnya investasi digital dari sektor publik maupun swasta di Indonesia menjadi momentum tepat untuk memperkuat sistem keamanan dokumen digital terintegrasi.
Kebutuhan akses kerja fleksibel juga dijawab oleh TSplus yang menawarkan teknologi konversi aplikasi lawas ke sistem berbasis web. Sementara itu, KasperskyOS memperkenalkan Kaspersky Thin Client untuk memusatkan pengelolaan keamanan perangkat, dan Centerm bersiap menyasar sektor pendidikan melalui solusi komputer hemat daya untuk sekolah dan perguruan tinggi.
Untuk meminimalkan celah keamanan, Qualys menghadirkan platform pemantauan ancaman berkelanjutan guna memitigasi risiko pada infrastruktur komputasi awan. Melengkapi ekosistem tersebut, Cinimex memboyong solusi kecerdasan buatan berorientasi data (Lakehouse) yang siap diimplementasikan pada aplikasi bisnis berskala besar.
Country Manager PT Aswant Distribution Indonesia, Soni Lukman Haposan, menegaskan bahwa peran Aswant tidak sekadar mendistribusikan produk, melainkan menjadi jembatan edukasi dan dukungan implementasi bagi perusahaan lokal. Menurutnya, proteksi digital kini bukan lagi opsi tambahan setelah sistem dibangun, melainkan aspek fundamental yang wajib diintegrasikan sejak awal transformasi digital demi menekan risiko ancaman siber yang terus dinamis.