PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports sukses mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada paruh pertama tahun 2026. BUMN pengelola bandara ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,23 triliun, tumbuh tiga persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Lonjakan pendapatan ini utamanya disokong oleh optimalisasi lini bisnis non-aeronautika. Langkah strategis berupa mempercantik fasilitas pelayanan dan penataan ulang konfigurasi penyewa (tenant mixing) di area komersial terbukti efektif dalam menghadirkan pengalaman belanja yang lebih menarik bagi para pengguna jasa bandara.

Direktur Utama InJourney Airports, Mohammad Rizal Pahlevi, mengungkapkan bahwa transformasi bisnis yang berjalan di bawah arahan Danantara berhasil menjaga tren pertumbuhan di tengah ketidakpastian global. Saat ini kontribusi sektor non-aeronautika meroket hingga 38 persen dari total pendapatan, melonjak signifikan dibanding era sebelum integrasi Angkasa Pura I dan II yang hanya berkisar di angka 30 persen.

Di Bandara Soekarno-Hatta, penataan komersial dilakukan secara masif di Terminal 3 serta penerapan konsep shopping arcade terbuka di Terminal 1C. Sementara itu, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali kini menerapkan konsep single flow dengan menghadirkan merek-merek global ternama guna memberikan kenyamanan maksimal bagi pelancong internasional.

Peningkatan infrastruktur juga terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yang telah mengoperasikan terminal baru sejak akhir tahun lalu. Kapasitas tampung bandara ini melonjak drastis dari 7 juta menjadi 15,5 juta penumpang per tahun, memperkuat posisinya sebagai hub utama di wilayah Indonesia Timur.

Dari sisi aviasi atau aeronautika, InJourney Airports aktif berkolaborasi dengan Kementerian Perhubungan dan berbagai pemangku kepentingan global. Melalui forum internasional seperti pertemuan ASEAN-China Working Group dan Routes Asia, perseroan berkomitmen memperluas jaringan rute penerbangan langsung demi menggairahkan sektor pariwisata nasional.