Piala Dunia 2026 yang digadang-gadang sebagai panggung pembuktian keadilan melalui teknologi, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi penikmat sepak bola. Alih-alih meredam perdebatan, kehadiran Video Assistant Referee (VAR) kini justru dianggap sebagai bumerang yang mencabut esensi spontanitas dan kegembiraan yang telah melekat dalam olahraga ini selama lebih dari satu abad.

Tren intervensi VAR pada turnamen kali ini menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan dua edisi sebelumnya. Keputusan wasit yang terlalu forensik—seperti membedah pelanggaran yang terjadi belasan detik sebelum gol tercipta—telah merugikan banyak tim, termasuk Mesir dan Kroasia. Penggunaan sensor bola untuk mendeteksi kontak mikro yang bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang kian memperuncing kekecewaan para pemain serta pelatih di seluruh dunia.

Mantan wasit Liga Primer Inggris, Graham Scott, menyoroti bahwa VAR telah terjebak dalam obsesi detail yang tidak perlu. Menurutnya, aksi wasit yang mencari-cari pelanggaran kecil di area abu-abu justru merusak alur pertandingan. Kritik senada datang dari ilmuwan data Brennan Klein, yang menilai bahwa ketergantungan pada kecerdasan buatan telah menciptakan suasana distopia di stadion, di mana suporter merasa frustrasi oleh jeda pemeriksaan yang berlarut-larut.

Meski menuai badai kritik, FIFA melalui Ketua Wasit Pierluigi Collina tetap teguh pada pendiriannya. FIFA bersikeras bahwa VAR adalah alat krusial untuk meminimalisasi kesalahan manusia. Namun, perdebatan kini telah melampaui teknis perwasitan dan merambah ke ranah politik, dengan keterlibatan figur publik yang mempertanyakan integritas pengambilan keputusan di lapangan.

Pada akhirnya, ambisi untuk menghadirkan keadilan yang sempurna justru mengaburkan nilai dasar sepak bola sebagai permainan yang manusiawi. Seperti yang pernah diutarakan mendiang legenda Johan Cruyff, sepak bola adalah tentang melakukan kesalahan paling sedikit, bukan tentang ketiadaan kesalahan. Kini, sepak bola dihadapkan pada realitas pahit bahwa presisi mesin tidak selamanya mampu menangkap emosi dan ruh dari sebuah pertandingan yang sesungguhnya.