Guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan pilu sekaligus potret perjuangan kemanusiaan yang luar biasa. Di tengah kelumpuhan infrastruktur dan hancurnya fasilitas medis, para tenaga kesehatan di Kecamatan Cibal Barat memilih tetap bertahan di garis depan guna memastikan keselamatan warga yang terluka dan membutuhkan pertolongan darurat.

Salah satu aksi heroik ditunjukkan oleh Bidan Sovia Ngawus dan Bidan Indah dari Desa Golo Lanak. Pada suatu subuh pascagempa, mereka harus menangani persalinan berisiko tinggi di dalam tenda darurat karena gedung Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) setempat runtuh total. Dengan peralatan seadanya dan kondisi pasien yang mengalami hipertensi serta pecah ketuban dini, kedua bidan ini berpacu dengan waktu untuk merujuk pasien ke Puskesmas Wae Codi.

Perjalanan membawa pasien pun tidak mudah akibat akses jalan yang rusak parah, ditambah insiden ban pecah di tengah jalan. Meski demikian, berkat kesigapan tim, ibu dan bayi berhasil diselamatkan. Di balik ketegaran tersebut, para bidan ini juga menyimpan duka pribadi. Rumah Bidan Indah roboh rata dengan tanah, memaksanya mengungsikan anak balitanya ke tenda darurat dan menitipkan mertuanya yang sakit kepada tetangga demi menunaikan sumpah profesi.

Kondisi serupa dialami Puskesmas Wae Codi yang bangunannya roboh hingga menimbun obat-obatan dan alat medis. Kepala Puskesmas Wae Codi, Heribertus Jeli Jefri, mengungkapkan bahwa pelayanan kesehatan kini dialihkan ke posko darurat di halaman mes karyawan. Guna menjangkau warga yang trauma masuk ke dalam ruangan, pelayanan difokuskan melalui skema jemput bola dari tenda ke tenda pengungsian.

Untuk menyiasati keterbatasan personel akibat absennya dokter umum, sebanyak 62 perawat dan bidan dibagi ke dalam dua sif kerja yang bersiaga selama 24 jam. Pada malam hari, penanganan medis terpaksa mengandalkan penerangan lampu darurat dan daya listrik seadanya dari panel surya. Ketiadaan pasokan air bersih juga diantisipasi dengan menyediakan drum penampung air di sudut-sudut posko darurat.

Saat ini, keluhan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, serta gangguan kecemasan mulai mendominasi posko pengungsian. Kepala Tata Usaha Puskesmas Wae Codi, Videlis Jenarum, menegaskan pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai untuk menjaga ketersediaan logistik obat-obatan darurat tetap terpenuhi sepanjang masa tanggap bencana.