CKB Supply Chain Forum (CSCF) 2026 menjadi ruang pertemuan bagi pelaku industri, regulator, dan pemangku kepentingan logistik untuk membahas penguatan rantai pasok nasional di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu.
Forum tersebut digelar CKB Logistics bersama Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Agenda utamanya menyoroti pentingnya kolaborasi, pemanfaatan teknologi, serta penguatan tata kelola risiko dalam menciptakan ekosistem logistik yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan.
Direktur CKB Logistics, Iman Sjafei, menilai ketegangan geopolitik dan berbagai disrupsi global telah memberi tekanan besar terhadap kelancaran rantai pasok. Karena itu, menurut dia, dunia usaha perlu memiliki strategi bersama agar distribusi barang tetap berjalan dan risiko operasional dapat ditekan sejak dini.
Iman menyebut CSCF 2026 dihadirkan bukan hanya sebagai forum diskusi, melainkan sebagai wadah untuk merumuskan langkah konkret dalam membangun solusi logistik yang lebih responsif, terintegrasi, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar maupun regulasi.
Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics, Ety Puspitasari, menambahkan bahwa pengelolaan rantai pasok saat ini tidak cukup hanya berfokus pada efisiensi biaya dan kecepatan layanan. Perusahaan, kata dia, perlu menggeser pendekatan menuju ketahanan atau resilience agar mampu bertahan saat terjadi gangguan.
Menurut Ety, ketahanan tersebut dapat dibangun melalui jaringan operasional yang fleksibel, kemitraan yang kuat, serta penerapan manajemen risiko secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Dukungan teknologi seperti Digital Control Tower juga dinilai penting untuk meningkatkan visibilitas operasional dan mempercepat pengambilan keputusan berbasis data.
Founder sekaligus CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, menegaskan bahwa manajemen risiko harus menjadi bagian yang melekat dalam setiap tahapan rantai pasok, mulai dari proses pengadaan, penyimpanan, transportasi, hingga distribusi akhir.
Ia menjelaskan, rantai pasok yang tangguh bukan berarti sepenuhnya bebas dari gangguan. Sistem yang kuat adalah sistem yang mampu mengidentifikasi potensi risiko lebih awal, merespons secara cepat, serta memulihkan operasional dalam waktu yang lebih singkat ketika terjadi hambatan.
SCI mendorong penerapan lima pilar utama dalam membangun ketahanan rantai pasok, yakni tata kelola risiko, visibilitas, fleksibilitas, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan. Kelima pilar tersebut dinilai semakin efektif apabila ditopang oleh Digital Control Tower sebagai pusat pemantauan dan pengambilan keputusan.
Dari sisi regulasi, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengapresiasi penyelenggaraan CSCF 2026 karena dapat menjadi sarana sosialisasi ketentuan ekspor-impor kepada pelaku usaha. Forum semacam ini dinilai membantu meningkatkan pemahaman serta kepatuhan perusahaan terhadap aturan kepabeanan.
DJBC juga menyoroti status Authorized Economic Operator (AEO) yang telah dimiliki CKB Logistics. Status tersebut menunjukkan pengakuan terhadap tingkat kepatuhan perusahaan dalam memenuhi standar keamanan dan kepabeanan yang berlaku.
Ke depan, CSCF diharapkan berkembang menjadi forum kolaboratif yang lebih luas dengan melibatkan pelaku usaha, akademisi, regulator, dan komunitas logistik. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan solusi rantai pasok yang lebih adaptif sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.