Belakangan ini, beredar sebuah narasi di media sosial Facebook yang mengeklaim bahwa vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) berbahaya bagi kesehatan. Unggahan tersebut menyebutkan komponen vaksin dapat merembes ke aliran darah, menyebar ke otak, serta memicu serangan autoimun yang fatal hingga menyebabkan kematian. Narasi ini juga menyertakan tangkapan layar sebuah artikel ilmiah rilisan tahun 2012 untuk memperkuat klaim tersebut.

Hasil penelusuran fakta menunjukkan bahwa klaim tersebut adalah disinformasi medis yang menyesatkan. Artikel ilmiah yang dijadikan rujukan dalam unggahan itu, yakni "Death after Quadrivalent Human Papillomavirus (HPV) Vaccination: Causal or Coincidental?", telah ditolak oleh konsensus ilmiah global, termasuk Badan Kesehatan Dunia (WHO). Kajian dari para ahli menemukan adanya kelemahan metodologis yang sangat mendasar dan manipulasi data dalam penelitian tersebut.

Kelompok kerja keselamatan vaksin dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang valid untuk mengaitkan vaksin HPV dengan kondisi vaskulitis serebral atau kematian. Metode penelitian dalam jurnal tahun 2012 tersebut dinilai tidak memadai untuk mengidentifikasi partikel virus dan tidak menggunakan sampel kontrol yang benar.

Pada kenyataannya, vaksin HPV terbukti aman dan sangat krusial untuk mencegah kanker serviks yang dipicu oleh virus HPV tipe 16 dan 18. Efek samping yang muncul setelah vaksinasi umumnya tergolong ringan dan bersifat sementara, seperti rasa nyeri di area suntikan, demam ringan, sakit kepala, serta kelelahan tubuh. WHO dan kementerian kesehatan di berbagai negara terus memantau keamanan distribusi vaksin ini secara ketat.