Ekspansi bisnis retail kuliner kerap kali diidentikkan dengan penambahan jumlah gerai secara masif. Namun, Chief Marketing Officer (CMO) FORE Coffee, Matthew Ardian, menegaskan bahwa strategi pertumbuhan yang sehat harus melampaui sekadar angka kuantitatif dan wajib berorientasi pada pemahaman mendalam terhadap kebutuhan lokal.
Menurut Matthew, setiap pembukaan cabang baru harus didasari oleh alasan yang kuat mengenai bagaimana brand tersebut dapat menyatu dengan gaya hidup masyarakat setempat. Ia menyoroti pentingnya riset karakter konsumen sebelum memutuskan untuk merambah kota-kota baru, seperti Solo misalnya, agar gerai yang didirikan tidak berakhir sepi pengunjung.
Saat ini, fungsi kedai kopi telah bergeser dari sekadar tempat membeli minuman menjadi ruang sosial multifungsi. Masyarakat modern kini memanfaatkan gerai kopi sebagai tempat bekerja, belajar, mengadakan pertemuan bisnis, hingga berkumpul bersama keluarga pada akhir pekan.
Salah satu contoh nyata keberhasilan pendekatan personal ini terlihat pada gerai FORE Coffee di kawasan Kaliurang, Yogyakarta, yang berdekatan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Matthew menceritakan bagaimana dinding gerai tersebut dipenuhi coretan pesan positif (words of affirmation) dari para mahasiswa, yang justru memberikan nilai emosional yang kuat bagi konsumen setempat.
Pendekatan berbasis komunitas dan gaya hidup lokal ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi pelaku industri makanan dan minuman (F&B) dalam merancang strategi ekspansi yang berkelanjutan, alih-alih terjebak dalam kompetisi jumlah gerai semata.