Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di Indonesia saat ini bukan lagi terletak pada ketersediaan teknologi, melainkan pada keberlanjutan sistem penerapannya di lapangan. Berbagai metode pengolahan modern, mulai dari pengomposan, biogas, hingga pirolisis, sebenarnya telah tersedia dan teruji secara teknis melalui riset laboratorium maupun proyek percontohan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, mengungkapkan bahwa sering terjadi kesenjangan antara keberhasilan inovasi di skala uji coba dengan kenyataan operasional di masyarakat. Banyak proyek teknologi pengolahan sampah dilaporkan tidak berjalan optimal saat diterapkan secara luas karena minimnya ekosistem yang mampu menopang operasional tersebut.

Dalam diskusi Media Lounge Discussion (MELODI) di Jakarta, Wahyu menyoroti perlunya pergeseran fokus riset dari sekadar menciptakan alat baru menuju pengembangan ekosistem yang komprehensif. Selama ini, penelitian cenderung hanya menitikberatkan pada efisiensi teknis, seperti optimasi performa alat atau penggunaan katalis baru, tanpa mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan kebijakan daerah yang krusial.

Menurutnya, keberlanjutan teknologi di masa depan sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan model ekonomi pengelolaan sampah yang tepat. Tanpa adanya ekosistem yang matang, berbagai teknologi canggih sekalipun akan menghadapi risiko kegagalan saat dioperasikan secara nyata di tengah masyarakat.

Pernyataan ini menjadi evaluasi strategis bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk meninjau kembali strategi pengelolaan sampah. Fokus saat ini harus diarahkan pada bagaimana mengintegrasikan teknologi yang ada ke dalam tatanan sistem yang mampu berjalan secara mandiri dan berkelanjutan di berbagai wilayah di Indonesia.