BRIDA Kota Surabaya tengah menyiapkan inovasi pengolahan sampah plastik di kawasan pesisir mangrove melalui teknologi pirolisis. Langkah ini diarahkan untuk menjawab persoalan sampah yang kerap menumpuk dan tersangkut di akar-akar mangrove, terutama saat air laut pasang.
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa sampah di kawasan mangrove tidak hanya berasal dari aliran sungai. Pada kondisi tertentu, arus laut justru membawa material sampah masuk ke area mangrove hingga tersangkut di akar napas tanaman tersebut.
Menurut Agus, kondisi itu membuat proses pembersihan menjadi tidak mudah. Banyak sampah plastik berada di sela akar mangrove sehingga sulit dijangkau dan membutuhkan penanganan yang lebih sistematis.
BRIDA kemudian menggagas pengumpulan sampah plastik yang selama ini tidak memiliki nilai jual, seperti kantong plastik rusak dan material plastik berkualitas rendah. Pengumpulan tersebut direncanakan melibatkan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pelajar, masyarakat, hingga komunitas di sekitar pesisir.
Agus menyebut, sampah seperti botol plastik masih memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual atau didaur ulang. Namun, jenis plastik non-valuable atau tidak bernilai ekonomi justru banyak mengapung dan tersangkut di kawasan mangrove.
Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik tersebut akan diproses menjadi minyak bakar. BRIDA berharap hasil pengolahan ini dapat dimanfaatkan kembali oleh nelayan, terutama untuk bahan bakar motor tempel yang digunakan dalam aktivitas melaut.
Agus menggambarkan skema yang ingin dibangun: ketika nelayan tidak sedang mencari ikan, mereka dapat ikut mengumpulkan sampah plastik di kawasan mangrove. Sampah itu kemudian diserahkan untuk diproses, sementara minyak hasil pirolisis bisa dikembalikan sebagai bahan bakar.
Meski konsepnya telah disiapkan, pengembangan alat pirolisis masih menghadapi kendala pendanaan. Agus menyampaikan bahwa BRIDA masih berupaya mencari dukungan agar pengembangan alat tersebut dapat diselesaikan.
Sekretaris BRIDA Kota Surabaya, Mamik Suparmi, menambahkan bahwa teknologi pirolisis difokuskan pada jenis plastik yang selama ini sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomi. Plastik semacam itu akan dikumpulkan lalu diolah hingga menghasilkan minyak.
Untuk memperkuat riset dan pengembangan alat, BRIDA menggandeng Fakultas Teknik serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan sesuai kebutuhan lapangan.
Selain pengelolaan sampah mangrove, BRIDA Surabaya juga membuka ruang kolaborasi riset melalui platform BRIGHT atau BRIDA Research, Internship Growth and Holistic Training. Platform berbasis web tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat yang ingin mengembangkan riset dan inovasi dengan lokus di Kota Surabaya.
Mamik mengatakan, BRIDA ingin menjadi wadah bagi lahirnya gagasan baru yang dapat berkembang menjadi inovasi nyata. Sejumlah mahasiswa magang disebut telah menghasilkan karya bersama BRIDA, bahkan sebagian didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual sebagai bekal peningkatan daya saing saat memasuki dunia kerja.