Menghadapi persaingan sengit di pasar otomotif Asia Tenggara, Honda Automobile (Thailand) secara resmi mengumumkan strategi besar untuk memperkuat pangsa pasar kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV). Langkah ini diambil sebagai upaya menantang dominasi produsen kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) asal China yang semakin agresif di pasar Thailand.

Sebagai inti dari strategi ini, Honda mengandalkan teknologi e:HEV yang memadukan motor listrik dengan efisiensi mesin bensin. Sistem ini memungkinkan perpindahan mode berkendara secara otomatis tanpa memerlukan pengisian daya eksternal, yang diklaim Presiden dan CEO Honda Automobile (Thailand), Koji Iwanami, sebagai solusi tepat bagi konsumen yang menginginkan efisiensi tinggi tanpa kendala infrastruktur pengisian daya.

Honda menargetkan bahwa pada tahun 2029, sekitar 90 persen dari total penjualan mereka di Thailand akan disumbangkan oleh model-model hybrid. Optimisme ini didukung oleh proyeksi perusahaan yang menyebutkan bahwa kendaraan hybrid akan menguasai sekitar 52 persen pangsa pasar otomotif Thailand, melampaui kendaraan listrik murni yang diprediksi berada di angka 33 persen.

Untuk menjaga daya saing harga, Honda berencana menekan biaya produksi sistem hybrid generasi terbaru hingga lebih dari 30 persen. Efisiensi ini diharapkan mampu menarik minat konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke kendaraan listrik murni, sekaligus memperkuat posisi Thailand sebagai basis produksi dan ekspor utama Honda di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, Honda juga mendorong pemerintah Thailand untuk memperketat kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bagi produsen BEV asing. Kebijakan ini dinilai perlu agar industri komponen lokal dapat lebih berkembang seiring dengan transisi teknologi kendaraan yang tengah berlangsung. Meski fokus utama saat ini adalah teknologi e:HEV, Honda menegaskan bahwa pengembangan teknologi BEV tetap berjalan sebagai bagian dari komitmen elektrifikasi jangka panjang.