Belakangan ini, muncul narasi di media sosial yang mengaitkan kebiasaan menyemprotkan parfum pada area leher dengan risiko penyakit kanker tiroid. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang yang terbiasa menggunakan wewangian sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
Namun, para ahli medis menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Dokter spesialis bedah onkologi dari RS Pondok Indah, Diani Kartini, dengan tegas membantah isu tersebut dan mengategorikannya sebagai informasi yang keliru atau hoaks. Menurutnya, tidak ada mekanisme biologis yang membuktikan bahwa paparan parfum pada kulit leher dapat memicu pertumbuhan sel kanker pada kelenjar tiroid.
Senada dengan hal tersebut, ahli endokrinologi Elizabeth Pearce menjelaskan bahwa meskipun beberapa zat kimia dalam wewangian berpotensi mengganggu fungsi endokrin, risiko penyerapan langsung melalui kulit leher hingga mencapai kelenjar tiroid sangatlah kecil. Struktur anatomi tubuh yang terdiri dari lapisan kulit, lemak, fasia, dan otot menjadi pelindung yang efektif untuk mencegah zat topikal mencapai kelenjar tersebut secara langsung.
Meski begitu, para ahli tetap menyarankan konsumen untuk tetap berhati-hati dalam memilih produk wewangian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan kimia tertentu seperti ftalat, paraben, galaxolide, dan tonalide yang sering ditemukan dalam produk pewangi sintetis dapat menjadi pengganggu hormon apabila terpapar secara terus-menerus dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Selain kekhawatiran terkait endokrin, terdapat alasan lain mengapa menyemprotkan parfum terlalu dekat dengan wajah kurang disarankan. Partikel wewangian yang terhirup secara langsung melalui hidung atau mulut berisiko masuk ke dalam saluran pernapasan, yang bagi sebagian orang dapat memicu iritasi atau gangguan pernapasan ringan.