Ajang Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, sukses mencetak rekor baru dengan mempertemukan lebih dari 2.700 delegasi dari 67 negara. Forum bisnis telekomunikasi internasional tahunan ke-11 ini menjadi ruang strategis bagi lebih dari 760 perusahaan global untuk menyepakati kolaborasi melalui sekitar 4.000 sesi pertemuan bisnis.

Pertemuan berskala besar ini menyoroti urgensi penguatan infrastruktur digital global di tengah lonjakan kebutuhan konektivitas yang dipicu oleh akselerasi komputasi awan (cloud computing) dan kecerdasan buatan (AI). BATIC 2026 menjadi jembatan penting untuk menyelaraskan kebutuhan lintas negara guna menghadapi era transformasi digital modern yang serba cepat.

Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa kehadiran peserta dari berbagai kawasan baru, termasuk Amerika Latin, menunjukkan daya tarik ekosistem digital Indonesia di mata dunia. Mengingat proyeksi pasar konektivitas global berpotensi melonjak dari 130 miliar dolar AS menjadi lebih dari 300 miliar dolar AS pada tahun 2030, Telkom berfokus membangun kemitraan strategis jangka panjang. Untuk mendukung hal tersebut, Telkom secara konsisten mengalokasikan sekitar 18 hingga 20 persen pendapatannya untuk investasi infrastruktur vital seperti fiber optik, menara seluler, hingga pusat data.

Senada dengan itu, Chief Executive Officer Telin, Abdul Rahman Ansyori, menekankan bahwa kehadiran AI dan teknologi awan telah mengubah fungsi dasar jaringan telekomunikasi. Jaringan kini dituntut untuk saling menghubungkan sistem kecerdasan digital secara kolaboratif. Guna mewujudkannya, Telin terus memperluas koridor jaringan strategis, mencakup jalur Indonesia-Asia, Transpasifik yang menghubungkan Asia dan Amerika, hingga rute Asia-Eropa serta ekspansi ke kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Namun, lonjakan permintaan kapasitas data ini juga menghadirkan tantangan teknis yang signifikan. Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, menjelaskan bahwa pertumbuhan konsumsi bandwidth berkecepatan tinggi kini jauh melampaui durasi pembangunan infrastruktur kabel bawah laut. Selain waktu konstruksi yang memakan waktu hingga lima tahun, faktor geopolitik di titik krusial seperti Selat Hormuz juga memaksa industri untuk menyiapkan alternatif rute cadangan yang lebih aman.

Menghadapi risiko global tersebut, Indonesia berada pada posisi geografis yang sangat diuntungkan untuk menjadi jalur alternatif utama konektivitas internasional. Budi menegaskan bahwa perairan Nusantara menawarkan rute aman untuk memperkuat ketahanan jaringan dunia, sekaligus membuka peluang besar bagi Indonesia untuk tampil sebagai hub konektivitas digital regional.