Pasar keuangan domestik tengah berada dalam tekanan berat seiring akumulasi sentimen negatif dari kancah global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa mengakhiri tren penguatan enam hari berturut-turut setelah anjlok 1,89% ke level 5.873,37 pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Sentimen negatif dipicu oleh keputusan S&P Dow Jones Indices yang menempatkan Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist) klasifikasi pasar berkembang, yang memicu aksi jual investor asing sebesar Rp689,33 miliar.
Tekanan di pasar saham selaras dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Ketidakpastian pasar diperparah oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Aksi militer di Timur Tengah ini tidak hanya memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, tetapi juga memaksa Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3% akibat meningkatnya risiko geopolitik.
Di sisi lain, Federal Reserve (The Fed) masih menunjukkan sikap yang tidak seragam terkait kebijakan moneter ke depan. Risalah rapat terbaru menunjukkan para pejabat bank sentral AS masih terbelah dalam menyikapi arah suku bunga, dengan mempertimbangkan tekanan inflasi yang masih tinggi akibat gangguan rantai pasok energi. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung bersikap hati-hati, yang tercermin dari melonjaknya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke level 7,258%.
Di tengah tantangan eksternal tersebut, daya beli konsumen domestik juga menunjukkan indikasi melambat. Survei Bank Indonesia mencatat penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026, yang mencerminkan berkurangnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek masa depan. Pasar kini menanti rilis data penjualan ritel domestik untuk mengukur seberapa jauh konsumsi rumah tangga mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di tengah badai ketidakpastian global.
Meski dihadapkan pada tantangan berat, pemerintah dan regulator tetap berupaya melakukan langkah mitigasi. Otoritas Bursa Efek Indonesia tengah mengevaluasi mekanisme perdagangan untuk meningkatkan transparansi pasar, sementara Bank Indonesia memperpanjang relaksasi kebijakan kartu kredit hingga akhir tahun guna menjaga fleksibilitas arus kas rumah tangga serta mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.