Presiden FIFA Gianni Infantino resmi membatalkan rencana penjualan saham komersial Piala Dunia setelah menghadapi gelombang penolakan keras dan ancaman boikot dari Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Keputusan dramatis ini diambil hanya dua pekan setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 yang sukses secara finansial, menandai krisis kepemimpinan terbesar sepanjang sejarah kekuasaan pria asal Swiss tersebut.

Rencana kontroversial tersebut awalnya dikemas dalam proyek bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Melalui skema ini, FIFA berniat melepas 20 persen saham aset komersial turnamen masa depan kepada konsorsium swasta, Thrive Eternal, yang dipimpin oleh Joshua Kushner. Proyeksi suntikan dana segar senilai 4,2 miliar dolar AS tersebut dijanjikan untuk melipatgandakan dana bantuan bagi 211 negara anggota FIFA.

Namun, langkah komersialisasi ini dinilai mencederai nilai-nilai tradisional sepak bola. UEFA langsung bereaksi keras dengan mengancam akan menarik diri dari seluruh kompetisi resmi FIFA jika proyek tersebut dilanjutkan. Kekhawatiran terbesar berpusat pada potensi eksploitasi jadwal pertandingan yang kian padat demi memuaskan kepentingan investor swasta, yang dapat merusak struktur kompetisi domestik dan regional.

Tekanan tidak hanya datang dari luar. Gejolak internal mengguncang markas FIFA di Zurich setelah penasihat senior Carlos Cordeiro memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Di saat yang sama, Chief Operating Officer Kevin Lamour melakukan pembangkangan terbuka dengan melayangkan kritik keras terhadap kebijakan tersebut demi membela jajaran staf organisasi.

Dalam pernyataan resminya pada Jumat (31/7/2026) waktu setempat, Infantino mengakui bahwa proyek FFE telah memicu perpecahan yang tidak sejalan dengan visi awal organisasi. Kegagalan ini memperlemah posisi Infantino menjelang kongres pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang di Maroko, dengan nama-nama seperti Nasser al-Khelaïfi dan Victor Montagliani kini mencuat sebagai kandidat penantang serius.