Pemerintah Desa Batuagung di Kecamatan Jembrana, Bali, mengambil langkah progresif untuk memangkas pasokan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Peh. Melalui kolaborasi dengan akademisi lokal, warga dibekali keterampilan mengolah limbah dapur secara mandiri menggunakan inovasi teknologi sederhana bernama Si-Otong (Sistem Organik Tong).
Sosialisasi dan pelatihan praktis ini menyasar kelompok ibu-ibu PKK di Banjar Batuagung. Fokus utama dari program ini adalah mengubah perilaku masyarakat agar mau memilah dan mengolah sampah organik langsung dari sumbernya, yaitu dari area dapur rumah tangga masing-masing sebelum dibuang ke luar rumah.
Kepala Desa Batuagung, I Nyoman Sudarma, menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Penerapan teknologi Si-Otong diharapkan dapat diadopsi secara luas guna mereduksi volume sampah di tingkat desa sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat secara berkelanjutan.
Pelatihan ini difasilitasi oleh tim akademisi dari Universitas Triatma Mulya PSDKU Jembrana. Dipimpin oleh Dr. I Made Aditya Dharma, tim memberikan edukasi mendalam mengenai dampak buruk limbah dapur yang tidak terkelola, disusul dengan demonstrasi langsung penggunaan wadah pengolahan Si-Otong kepada para peserta.
Selama ini, sebagian besar sampah organik rumah tangga di wilayah tersebut masih tercampur dengan jenis sampah lainnya, sehingga memperberat beban operasional pengangkutan menuju TPS desa maupun TPA. Sinergi berkelanjutan antara pemerintah desa, warga, dan akademisi ini diharapkan mampu melahirkan budaya pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan di Kabupaten Jembrana.