Sebuah asteroid berukuran kolosal dijadwalkan melintas dalam jarak relatif dekat dengan Bumi pada akhir pekan ini. Badan Antariksa Eropa (ESA) mengonfirmasi bahwa batuan antariksa bernama 1997 NC1 mencapai titik terdekatnya dengan planet kita pada Sabtu (26/6) pagi waktu setempat, pada jarak sekitar 2,6 juta kilometer atau setara 1,6 juta mil dari permukaan Bumi.

Meskipun jaraknya terdengar jauh, dalam skala kosmis angka tersebut tergolong berdekatan. Namun para ilmuwan menegaskan bahwa asteroid ini sama sekali tidak menimbulkan ancaman bagi kehidupan di Bumi. Ukurannya diperkirakan memiliki lebar antara 750 meter hingga 1,65 kilometer, yang jika dianalogikan setara dengan dua hingga empat kali tinggi Gedung Empire State di New York.

Asteroid 1997 NC1 pertama kali teridentifikasi hampir tiga dekade silam melalui sistem pelacakan asteroid yang beroperasi di Hawaii. Sejak saat itu, lintasannya terus dipantau secara cermat oleh komunitas astronomi internasional. Bagi para pengamat langit yang ingin menyaksikan fenomena ini, asteroid tersebut kemungkinan dapat terlihat sebagai titik cahaya kecil yang bergerak perlahan apabila menggunakan teropong atau teleskop berukuran kecil.

Menurut data yang dirilis NASA, peristiwa lintas dekat seperti ini tidak akan terulang dalam waktu dekat. Asteroid 1997 NC1 diperkirakan baru akan kembali mendekati Bumi pada jarak serupa pada tahun 2133, atau lebih dari satu abad lagi dari sekarang.

Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada tahun 2022, ketika asteroid bernama 1994 PC1 yang berukuran hampir sama melintas dengan selamat di dekat Bumi pada jarak yang bahkan lebih dekat dibandingkan lintasan 1997 NC1 kali ini.

NASA, ESA, dan sejumlah badan antariksa dunia lainnya secara rutin memantau jalur pergerakan asteroid serta puing-puing luar angkasa guna mengantisipasi potensi tabrakan dengan Bumi. Pada tahun lalu, para astronom juga berhasil melacak sebuah asteroid yang lebih kecil dengan bentuk menyerupai keping hoki yang berputar, dan menyimpulkan bahwa objek tersebut tidak memiliki kemungkinan menghantam Bumi maupun Bulan.