Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kini mengandalkan penerapan teknologi pertanian modern untuk menjaga kestabilan produksi padi di tengah tantangan musim kemarau. Langkah strategis ini diambil sebagai solusi konkret guna membantu para petani menghadapi keterbatasan air yang dipicu oleh fenomena El Nino.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, mengungkapkan optimisme bahwa modernisasi sektor pangan dapat meminimalisasi dampak kekeringan. Salah satu proyek percontohan telah diimplementasikan di lahan seluas 100 hektare di Blok Suket Baju, Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, melalui program Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang melibatkan puluhan petani setempat.
Dalam penerapannya, pengelolaan lahan kini didukung oleh mekanisasi pertanian mulai dari sistem irigasi pompa, penggunaan alat pemanen mekanis (combine harvester), hingga drone penyemprot pupuk dan pestisida. Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Tanaman Padi, Amin Nur, menegaskan bahwa adopsi teknologi ini harus dibarengi dengan pendampingan intensif agar petani terbiasa dengan pola kerja baru yang lebih efisien dan hemat tenaga.
Selain pemanfaatan alat canggih, pemerintah daerah juga berfokus pada perbaikan infrastruktur pengairan jangka panjang. Sebanyak 63 titik pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) telah disetujui untuk dibangun di sejumlah kawasan tadah hujan yang rentan kekeringan, seperti di Kecamatan Gantar, Kroya, Terisi, Cikedung, dan Gabuswetan.