Kasus anemia defisiensi besi (IDA) di Indonesia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan. Meskipun prevalensinya tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata global, yakni 23,8 persen pada anak-anak dan 27,7 persen pada ibu hamil, jumlah populasi yang besar membuat jutaan jiwa tetap terancam oleh kondisi ini.
Pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dian Novita Chandra, mengungkapkan bahwa fase 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode paling rawan. Kurangnya asupan zat besi selama masa emas ini dapat berdampak fatal bagi perkembangan sistem imun serta pertumbuhan fisik dan kognitif anak secara menyeluruh.
Dian menyebut IDA sebagai "kondisi senyap" karena gejalanya sering tidak disadari hingga tahap yang lanjut. Gejala umum seperti wajah pucat, kelelahan, dan rentan terhadap infeksi kerap dianggap sepele oleh orang tua. Oleh karena itu, ia menekankan urgensi deteksi dini sebelum munculnya tanda-tanda klinis yang lebih parah.
Senada dengan hal tersebut, Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Ray Wagiu Basrowi, memaparkan konsekuensi ekonomi dan sosial dari anemia. Berdasarkan data WHO dan UNICEF, anak-anak pengidap anemia berisiko mengalami penurunan prestasi akademik yang signifikan dibandingkan rekan sebaya mereka yang sehat.
Studi lebih lanjut pun menunjukkan bahwa anemia berkorelasi dengan rendahnya kemampuan working memory atau memori kerja pada anak usia sekolah. Jika tidak ditangani secara serius, hambatan ini berpotensi mereduksi daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan, mengingat kemampuan kognitif tersebut menjadi modal utama untuk menjadi tenaga kerja yang produktif.