Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sesi pertama hari ini, ditutup melemah 1,11 persen ke level 5.920,15. Pergerakan pasar bahkan sempat menyentuh titik terendah intraday di level 5.897,90, mencerminkan respons negatif pelaku pasar terhadap kabar dari bursa global.

Hingga paruh pertama perdagangan, total volume transaksi tercatat mencapai 12,25 miliar lembar saham dengan nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 5,22 triliun melalui 1,13 juta kali transaksi. Tekanan ini tidak hanya dirasakan indeks utama, tetapi juga menyasar indeks LQ45 yang merosot 1,17 persen. Mayoritas emiten, yakni 447 saham, tercatat melemah, sementara hanya 197 saham yang berhasil bertahan di zona hijau.

Koreksi mendalam terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (blue chip). PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) terkoreksi 3,62 persen, disusul oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 3,16 persen, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang melemah 2,10 persen.

Sentimen negatif ini dipicu oleh pengumuman S&P Dow Jones Index (S&P DJI) yang membuka peluang untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market. Keputusan ini didasari pada kekhawatiran investor global terhadap transparansi kepemilikan saham di dalam negeri, sebuah isu yang sebelumnya juga sempat disorot oleh MSCI.

Dalam keterangan resminya, S&P DJI memberikan tenggat waktu bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan tata kelola. Jika masalah transparansi tidak terselesaikan dalam kurun waktu satu tahun kalender sejak pemberlakuan langkah khusus, pihak S&P DJI menegaskan akan mengevaluasi kembali klasifikasi pasar modal Indonesia pada tinjauan tahunan berikutnya.