Pasar komoditas logam mulia menunjukkan sinyal penguatan yang signifikan menjelang pembukaan perdagangan pekan depan. Setelah menutup pekan ini di level Rp2.670.000 per gram, para pengamat memperkirakan harga emas akan berada dalam tren kenaikan, dengan proyeksi rentang harga mencapai Rp2.690.000 hingga Rp2.780.000 per gram.

Ibrahim Assuaibi, pakar mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa katalis utama pergerakan harga emas terletak pada dinamika kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga, yang didorong oleh melambatnya laju inflasi serta penurunan harga minyak mentah global pasca-meredanya tensi geopolitik, dipandang sebagai bahan bakar utama kenaikan harga emas dunia.

Selain sentimen kebijakan moneter AS, momentum kenaikan harga juga didukung oleh aksi strategis bank sentral di berbagai negara. Data terbaru menunjukkan bahwa institusi moneter di Tiongkok, Singapura, Uzbekistan, hingga Kazakhstan terus menggenjot cadangan emas mereka. Langkah ini memperkuat kepercayaan pasar bahwa logam mulia tetap menjadi instrumen lindung nilai yang paling diminati di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Meski terdapat potensi koreksi harga di rentang Rp2.550.000 hingga Rp2.650.000 per gram jika terjadi sentimen negatif pasar, Ibrahim menekankan bahwa penurunan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung dalam. Secara fundamental, kombinasi antara kebijakan moneter yang melonggar dan permintaan tinggi dari bank sentral global diproyeksikan akan menjaga daya tarik emas dalam jangka panjang, bahkan berpotensi mendorong harga emas dunia menuju level US$5.000 per troy ons.