Pemerintah Vietnam melalui Resolusi No. 57-NQ/TW kini menempatkan pengembangan sumber daya manusia berbasis riset sebagai tulang punggung transformasi digital nasional. Fokus utama kebijakan ini adalah menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang mampu melahirkan doktor di bidang strategis, seperti kecerdasan buatan, teknologi kuantum, dan keamanan siber, guna memperkuat daya saing bangsa di kancah global.
Model pengembangan ini meniru keberhasilan Korea Selatan, di mana raksasa teknologi seperti Samsung, SK hynix, dan LG terlibat aktif dalam dunia akademik. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya memposisikan diri sebagai penyerap tenaga kerja, tetapi juga bertindak sebagai pusat riset dan pengembangan. Dengan memberikan beasiswa penuh dan kesempatan magang, mereka menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan kebutuhan riil industri, yang pada akhirnya memicu lonjakan inovasi dan kekayaan intelektual.
Merespons kebijakan pemerintah, pelaku industri domestik mulai mengambil langkah konkret. FPT, misalnya, telah meluncurkan program pendanaan bagi mahasiswa doktoral dengan dukungan finansial hingga 500 juta VND per orang. Melalui Institut AI Kuantum & Keamanan Siber, perusahaan ini berkomitmen mencetak 100 doktor dan ribuan pakar teknologi untuk mendorong kemandirian riset negara.
Langkah ini menjadi krusial bagi Vietnam untuk menguasai teknologi inti yang saat ini diperebutkan di tingkat internasional. Dengan menyinergikan peran sektor bisnis, universitas, dan pemerintah, diharapkan Vietnam mampu menghasilkan tenaga kerja riset yang tidak hanya mahir dalam teori, tetapi juga mampu memimpin inovasi berkelanjutan di era teknologi masa depan.