Pemerintah Kota Yogyakarta menjadi lokus studi bagi peserta Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN-RI). Kunjungan kerja yang berlangsung di Balai Kota Yogyakarta ini berfokus pada penjajakan praktik terbaik terkait akselerasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) serta inovasi tata kelola lingkungan hidup berkelanjutan.
Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan bahwa fondasi utama transformasi birokrasi tidak terletak pada peluncuran aplikasi baru, melainkan reformasi pola pikir (mindset) aparatur sipil negara. Pemkot Yogyakarta kini tengah memperkuat SPBE dengan memusatkan pengelolaan data di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian guna mewujudkan integrasi Satu Data Indonesia dan layanan satu pintu (one single website) bagi publik.
Tidak hanya menyasar digitalisasi administrasi, Pemkot Yogyakarta juga memaparkan strategi penanganan sampah perkotaan berbasis rekonstruksi sosial. Hasto menjelaskan bahwa penanganan sampah kini difokuskan pada perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu. Upaya ini diklaim berhasil memangkas operasional depo sampah di wilayah setempat, dari semula 45 titik kini tersisa 12 titik aktif.
Menanggapi hal tersebut, Widyaiswara Ahli Utama LAN-RI, Sinta Dame Simanjuntak, mengapresiasi pendekatan kolaboratif Pemkot Yogyakarta yang menempatkan warga sebagai subjek pembangunan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah sangat ditentukan oleh kebijakan yang humanis dan berempati pada kebutuhan nyata masyarakat.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kota Yogyakarta, Trihastono, menambahkan bahwa inovasi digital yang berhasil diukur dari dampaknya dalam memudahkan urusan masyarakat. Ia mengingatkan jajarannya agar merancang kebijakan pelayanan publik dengan menumbuhkan rasa empati terhadap kebutuhan penerima layanan.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menguraikan program 'Mas Joss' (Masyarakat Jogja Olah Sampah). Gerakan pentahelix ini memotivasi warga untuk memilah sampah organik dan anorganik secara mandiri sejak dari rumah, yang kemudian disalurkan ke ratusan bank sampah aktif demi menekan beban pembuangan akhir.