PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan komitmen nyata dalam pelestarian ekosistem dengan menekan penggunaan air secara signifikan sepanjang tahun 2025. Perusahaan mencatat total konsumsi air operasional sebesar 716,30 megaliter, menyusut 22,16 persen atau setara dengan penghematan sekitar 203,93 juta liter air dibandingkan periode tahun sebelumnya yang menembus 920,23 megaliter.

Langkah penghematan masif ini direalisasikan sebagai antisipasi terhadap tantangan perubahan iklim global serta potensi kelangkaan air di dalam negeri. Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi menghadapi curah hujan di bawah normal dengan ancaman fenomena cuaca panas El Niño yang diprediksi dapat bertahan hingga awal tahun 2027.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa efisiensi air merupakan bagian krusial dari strategi menjaga keberlanjutan layanan transportasi massal ini. Ia menjelaskan bahwa pemangkasan volume pemakaian air dicapai melalui sistem pengukuran yang presisi, pengendalian konsumsi, serta adopsi teknologi ramah lingkungan tanpa menurunkan kualitas kebersihan dan kenyamanan pengguna jasa kereta api.

Pengurangan pemakaian air terjadi secara merata pada seluruh lini pasokan KAI. Pemanfaatan air permukaan tercatat turun drastis dari 114,41 megaliter menjadi 47,90 megaliter. Sementara itu, pemakaian air tanah berhasil ditekan dari 626,25 megaliter menjadi 570,80 megaliter, dan pasokan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ikut menyusut dari 179,57 megaliter menjadi 97,60 megaliter.

Salah satu pilar utama di balik keberhasilan program penghematan ini adalah implementasi teknologi canggih bernama Automatic Train Wash Plant (ATWP) pada layanan LRT Jabodebek. Mesin pencuci kereta otomatis ini terintegrasi dengan sistem pengolahan air kembali (water treatment system) untuk menyaring material tanah, oli, dan pelumas dari air bekas cucian, sehingga dapat digunakan kembali dalam siklus pencucian berikutnya secara berkelanjutan.

Selain memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan, langkah efisiensi ini juga mendatangkan efisiensi finansial bagi korporasi. Pengurangan ketergantungan pada air PDAM dan air tanah secara langsung menekan pengeluaran operasional serta menghemat pemakaian daya listrik pompa air. Ke depan, KAI berkomitmen memperluas pengawasan ketat dan menguji coba teknologi daur ulang air serupa di berbagai wilayah operasional lainnya.