PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) tengah bersiap memodifikasi arah kebijakan bisnisnya guna merespons proyeksi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Langkah antisipatif ini diambil seiring dengan masih tingginya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh berbagai faktor eksternal.

Consumer Funding & Wealth Business Head Danamon, Ivan Jaya, mengungkapkan bahwa perkembangan geopolitik global tetap menjadi faktor penentu utama kondisi ekonomi saat ini. Kendati demikian, adanya tanda-tanda penurunan ketegangan di kawasan Timur Tengah diharapkan dapat menjadi stimulus positif bagi stabilitas pasar.

Merujuk pada dinamika tersebut, Ivan menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak satu hingga dua kali lagi. Menghadapi skenario tersebut, Danamon berkomitmen untuk bersikap fleksibel dan menyelaraskan langkah operasionalnya dengan kebijakan penyesuaian dari regulator.

Penyesuaian kebijakan ini nantinya akan diterapkan pada sektor suku bunga kredit maupun Dana Pihak Ketiga (DPK). Meski demikian, Danamon menegaskan tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif, melainkan tetap mempertimbangkan kondisi likuiditas pasar serta profil kebutuhan nasabah.

Sebagai langkah penguat, Danamon fokus memacu volume transaksi nasabah demi mendongkrak perolehan dana murah. Perseroan juga terus memperkokoh layanan transaksi keuangan, khususnya transaksi valuta asing (valas), guna menjaga agar biaya dana tetap kompetitif di tengah fluktuasi pasar.

Kesiapan strategi ini didukung oleh kinerja keuangan Danamon yang solid. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit perseroan tercatat tumbuh 9 persen secara tahunan (yoy) mencapai Rp216 triliun, sementara perolehan DPK melesat 16 persen yoy menjadi Rp176 triliun.