Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Menanggapi situasi ini, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengimbau warga di area terdampak untuk memperketat penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) demi menjaga daya tahan tubuh tetap optimal.

Selain menjaga daya tahan tubuh, Prof. Tjandra menyarankan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak. Jika terpaksa harus beraktivitas di dekat lokasi kebakaran, penggunaan masker berkualitas tinggi—atau bahkan respirator jika diperlukan—sangat direkomendasikan untuk meminimalkan paparan udara buruk.

Paparan asap karhutla mengandung partikel mikro berbahaya yang dikenal sebagai PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini menembus jauh ke dalam paru-paru hingga ke alveolus, yang kemudian dapat menyebar melalui aliran darah dan memicu peradangan. Tidak hanya itu, asap karhutla juga membawa campuran senyawa beracun seperti nitrogen dioksida, ozon, serta hidrokarbon aromatik yang berbahaya bagi tubuh.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kabut asap karhutla telah berdampak pada jutaan warga di puluhan kabupaten/kota yang tersebar di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita asma dan penyakit paru obstruktif menjadi pihak yang paling berisiko mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Bagi warga yang mulai merasakan gejala gangguan pernapasan, sesak napas, atau nyeri dada akibat kabut asap, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Penanganan medis secara cepat penting dilakukan guna meminimalisasi risiko komplikasi lebih lanjut.