Pasar ponsel pintar di Tiongkok tengah menghadapi tekanan besar setelah mencatat penurunan penjualan sebesar 13 persen secara tahunan (year-on-year) selama empat pekan periode festival belanja '618'. Kondisi ini mencerminkan pelemahan daya beli konsumen sekaligus tantangan bagi para produsen perangkat seluler di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru dari Counterpoint Research, pelemahan kinerja penjualan ini dipicu oleh lonjakan harga komponen memori. Kenaikan biaya produksi tersebut membatasi ruang gerak produsen untuk memberikan potongan harga yang agresif sebagaimana yang lazim ditemukan dalam festival belanja tahun-tahun sebelumnya.
Namun, di balik tren penurunan yang melanda hampir seluruh merek utama, Huawei muncul sebagai pengecualian yang mencolok. Perusahaan teknologi ini justru mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan yang signifikan, menjadikannya satu-satunya produsen besar yang berhasil melawan arus pasar.
Data dari 'China Weekly Smartphone Sell-Out Tracker' menunjukkan bahwa Huawei kini berhasil mengamankan pangsa pasar sebesar 21 persen pada periode pekan ke-22 hingga ke-25 tahun ini. Angka tersebut menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana Huawei hanya memegang 16 persen pangsa pasar.