Peningkatan suhu udara yang kian ekstrem belakangan ini telah melampaui batas kenyamanan dan berubah menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang nyata. Para pakar menekankan bahwa cuaca panas bukan sekadar isu iklim, melainkan faktor pemicu utama 'weather related death' atau kematian yang berkaitan dengan cuaca jika mitigasi tidak dilakukan dengan serius.
Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Herawati Supolo Sudoyo, menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ambang batas suhu normal di kisaran 36,5 hingga 37,5 derajat celsius. Ketika suhu lingkungan melampaui kemampuan regulasi tubuh, risiko kesehatan mulai dari heat exhaustion—yang ditandai dengan lemas dan kram otot—hingga heat stroke yang berpotensi fatal dapat terjadi. Kondisi ini secara khusus mengancam kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta pengidap penyakit kronis seperti jantung dan diabetes.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyoroti tren kenaikan suhu di Indonesia yang terus meningkat sekitar 0,13-0,14 derajat celsius setiap dekade. Fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026 diperkirakan akan memperburuk kondisi 'heat stress'. Terlebih, suhu malam hari yang tetap tinggi menghalangi tubuh untuk melakukan pemulihan, sebuah indikator risiko fatalitas yang telah terbukti nyata di berbagai belahan dunia.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, menyoroti fenomena 'urban heat island' di kota-kota besar seperti Jakarta. Kepadatan bangunan dan penggunaan material penyerap panas, seperti genteng gelap, telah meningkatkan suhu siang dan malam hari secara signifikan. Dalam satu dekade terakhir, jumlah hari panas ekstrem di wilayah urban melonjak tajam, mencerminkan perubahan drastis pada iklim mikro perkotaan.
Sebagai langkah adaptasi, para ahli mendorong masyarakat untuk memodifikasi hunian melalui penambahan ventilasi silang, penggunaan cat berwarna terang, dan penghijauan lingkungan. Selain itu, pemanfaatan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) yang mengukur suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan radiasi matahari sangat disarankan agar masyarakat dapat memantau tingkat stres panas secara akurat sebelum beraktivitas di luar ruangan.