Lembaga riset energi global Wood Mackenzie (WoodMac) merilis analisis terbaru yang memproyeksikan akselerasi adopsi kendaraan listrik (EV) di tingkat global. Transisi energi ini dipicu oleh tiga faktor ekonomi utama yang tidak hanya akan mengubah lanskap industri otomotif, tetapi juga menekan permintaan minyak bumi global sekaligus meningkatkan ketergantungan pada komoditas logam penting.

Menurut laporan tersebut, tiga stimulus utama yang mendorong percepatan ini meliputi gangguan pasokan minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di negara-negara produsen seperti Rusia dan Iran, lonjakan harga bahan bakar yang memaksa konsumen beralih ke EV, serta pesatnya inovasi teknologi. Tingginya harga minyak dunia diyakini akan mendesak berbagai pemerintah untuk memperkuat rantai pasok energi domestik dan mempercepat regulasi industri kendaraan listrik lokal.

Dalam hal inovasi, China dinilai memimpin pasar berkat pengembangan teknologi baterai canggih, termasuk pengisian daya super cepat berdurasi lima menit serta diversifikasi baterai berbasis sodium-ion dan lithium iron phosphate (LFP). Untuk mengejar ketertinggalan, WoodMac menyarankan negara-negara Barat untuk meningkatkan kemitraan lisensi teknologi dengan produsen China guna membangun ketahanan energi domestik dari fluktuasi harga minyak global.

Dampak dari peralihan ini diproyeksikan bakal menekan konsumsi minyak dunia menjadi sekitar 99 juta barel per hari (bph) pada tahun 2040, turun dari level saat ini yang berada di atas 100 juta bph. Kendati demikian, tingkat adopsi EV akan sangat bervariasi di setiap wilayah. Di Amerika Serikat, melimpahnya cadangan minyak domestik membuat pangsa pasar EV diperkirakan hanya tumbuh lambat menjadi 20 persen pada 2040. Sebaliknya, Eropa yang sangat bergantung pada impor minyak diprediksi mencatatkan lonjakan pangsa pasar EV hingga 35 persen pada periode yang sama.

David Brown, salah satu penulis laporan WoodMac, memperingatkan bahwa Amerika Serikat harus segera meningkatkan investasi di sektor manufaktur dan rantai pasok EV untuk menjaga daya saingnya di kancah internasional. Di sisi lain, peningkatan populasi kendaraan listrik juga menuntut investasi besar di sektor hulu pertambangan sebesar US$45 miliar dalam sepuluh tahun ke depan guna mengamankan pasokan mineral penting, terutama tembaga yang saat ini menjadi komponen krusial bagi baterai, jaringan distribusi listrik, dan pusat data.