Sebuah insiden menegangkan menimpa penerbangan Ryanair rute Thessaloniki, Yunani, menuju Memmingen, Jerman. Seorang penumpang pria berusia 61 tahun dilaporkan nyaris terhisap keluar dari badan pesawat Boeing 737 setelah kaca jendela pesawat pecah saat mengudara di ketinggian 16.000 kaki. Beruntung, nyawa korban berhasil diselamatkan setelah istrinya segera memegang kaki penumpang tersebut, diiringi dengan penggunaan sabuk pengaman yang dikenakan korban.

Saksi mata di lokasi kejadian mendeskripsikan situasi mencekam di dalam kabin, yang ditandai dengan suara dentuman keras mirip ledakan ban sesaat setelah lepas landas. Suasana semakin kacau ketika masker oksigen darurat diturunkan secara otomatis. Para penumpang sempat menduga pintu darurat terbuka, namun otoritas penerbangan mengonfirmasi bahwa fenomena tersebut merupakan dekompresi cepat (rapid decompression).

Secara teknis, dekompresi terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara yang ekstrem antara kabin pesawat dan atmosfer luar pada ketinggian tertentu. Ketika badan pesawat mengalami kerusakan atau lubang, udara bertekanan tinggi di dalam kabin akan bergerak keluar secara paksa menuju area bertekanan lebih rendah. Kekuatan aliran udara ini mampu menarik objek apa pun yang berada di dekat lubang tersebut, termasuk penumpang.

Dampak fisik dari insiden ini bagi korban adalah luka bakar akibat gesekan (friction burns) saat tubuhnya bersentuhan dengan badan pesawat. Meski selamat, insiden ini mengingatkan publik pada tragedi serupa yang pernah menimpa Southwest Airlines pada tahun 2018, di mana seorang penumpang tewas akibat tersedot keluar melalui jendela yang pecah akibat kegagalan mesin.

Menanggapi risiko tersebut, regulator penerbangan global seperti FAA telah mengambil langkah preventif dengan mengeluarkan arahan desain ulang pada struktur pesawat Boeing 737 NG. Langkah ini diwajibkan untuk menekan potensi kegagalan komponen yang dapat berakibat fatal bagi keselamatan penumpang di masa mendatang.