Aktivitas safari politik yang dilakukan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini tengah menjadi sorotan berbagai kalangan. Pengamat kebijakan publik dari Paramadina Public Policy Institute, Wahyutama, menilai terdapat dua agenda strategis di balik pergerakan tersebut, yakni penguatan mesin politik PSI serta upaya menjaga relevansi posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Wahyutama berpendapat bahwa dukungan Jokowi terhadap PSI merupakan langkah yang cukup beralasan mengingat partai tersebut masih tergolong pemain baru dalam kancah politik nasional. Sebagai partai yang berdiri pada 15 November 2015, PSI memerlukan dukungan narasi dan sosialisasi yang kuat agar dapat menjangkau basis massa yang lebih luas secara efektif.

Performa PSI pada Pemilu 2024 lalu menjadi catatan penting, di mana partai tersebut memperoleh 4,26 juta suara atau sekitar 2,8% dari total suara sah. Mengingat angka tersebut belum mampu melampaui ambang batas parlemen sebesar 4%, dukungan figur seperti Jokowi dianggap sebagai katalisator krusial untuk memperbaiki perolehan suara partai di masa mendatang.

Lebih lanjut, manuver ini juga dikaitkan dengan dinamika internal koalisi pemerintahan. Wahyutama menyinggung adanya laporan mengenai instruksi khusus dari pimpinan Partai Gerindra kepada fraksinya untuk memantau pergerakan Gibran Rakabuming Raka beserta aktivitas PSI di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa safari politik yang dilakukan Jokowi bukan sekadar urusan partai, melainkan bagian dari kalkulasi politik yang lebih kompleks terkait posisi Gibran di tengah peta kekuatan politik nasional saat ini.